Pesan Redaksi Tahun Pertama
Apa yang sejatinya hadir di hadapan kita hanyalah salah satu bunga dari sekian banyak bunga di sekian banyak ranting pohon berbunga. Begitu pula pikiran. Ia adalah satu dari sekian hasil cerminan dari apa yang dianggap penting oleh panca indera.
Demikian pikiran-pikiran yang terkumpul di Balai ini. Semua tak ubahnya bunga. Mekar dari ranting belahan diri editor yang terganggu jam tidurnya untuk kebimbangan keputusan. Apakah sejarah, kepiawaian, atau pikiran itu sendiri. Editor tak mudah main hakim sendiri. Ia menggantungkan reputasinya untuk pembaca-penulis pemula, atau penulis-pembaca senior. Dalam artian pengalaman dan pengamalan.
Pengalaman dan pengamalan menjatuhkan pikiran agar tegak lurus dengan tulisan melampaui keterampilan menyusun kata. Bukan kebiasaan, apalagi rutinitas, aktifitas itu adalah aktifitas membangun peradaban, sebuah aktifitas menggerek beban seberat bumi yang tak mudah untuk dilakukan.
Oleh aktifitas itu, alam atau amal yang telah diperbuat mesti terangkum dengan sejelas sekaligus seabtrak mungkin. Ada keanehan, keunikan, tapi kebenaran di saat bersamaan. Tak panjang lebar, tapi ini adalah pesan redaksi di tahun pertama, sejak didirikan pada 29 Maret 2025, setelah Balai Jembrana (Jembatan Pikiran Rakyat Nusantara) kandas termakan ego belaka.

