Perayaan Cap Go Meh Ciamis: Barongsai di Tengah Gempuran Lapar

Puncak perayaan Cap Go Meh—yang secara historis adalah perjamuan bulan purnama bagi keturunan naga—mendadak harus berbagi dengan tradisi ngabuburit yang menjadi ritual umat muslim Indonesia. Ini adalah pertemuan dua peradaban besar: satu sisi membawa lampion merah yang menyala, sisi lain membawa kantong plastik berisi gorengan yang menggoda selera.
Dalam sosiologi agama fenomena ini disebut dengan “religiusitas pragmatis”. Artinya, warga Ciamis tidak berdebat tentang teologi di tengah jalan; mereka justru bersatu dalam satu frekuensi yang sama, yaitu menunggu waktu berbuka dengan cara yang paling seru. Barongsai yang biasanya berfungsi mengusir roh jahat, sore itu mendapatkan “kontrak kerja tambahan” sebagai pengusir rasa kantuk dan lemas yang mulai menyerang urat syaraf manusia yang sedang puasa dengan penuh rasa sabar dan tabah di dada.
Ciamis atau Galuh bukan pemain baru dalam urusan toleransi yang sudah mendarah daging dalam jiwa. Sejak zaman Prabu Niskala Wastu Kancana, Galuh sudah mengajarkan bahwa kedamaian adalah pondasi utama untuk membangun sebuah kerajaan yang perkasa dan jaya. Maka, jangan heran jika melihat Masjid Agung dan Gereja berdiri berdampingan tanpa pernah ada gesekan yang bikin kepala pusing tujuh keliling setiap harinya.
Melihat atraksi Barongsai di depan Kelenteng Hok Tek Bio saat bulan Ramadan adalah bukti bahwa DNA Galuh itu masih sangat kental dan tidak luntur oleh zaman yang makin gila. Masyarakat Ciamis tidak butuh seminar moderasi beragama dengan spanduk besar di hotel mewah yang biayanya mahal dan sering kali hanya berisi omong kosong belaka. Mereka cukup disuguhi naga yang melompat lincah, lalu mereka akan bertepuk tangan bersama tanpa peduli apa agama sang pemain yang sedang bermandi keringat di dalam kostum singa.
Kita harus memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada para pemain Barongsai yang sedang melakukan diet ekstrem secara tidak sengaja demi menghibur massa. Bayangkan beban yang mereka pikul: harus salto, berdiri di atas pundak kawan, dan melakukan gerakan Cai Qing yang rumit, sementara di depan hidung mereka bertebaran aroma ayam penyet dan martabak manis yang baunya menembus pori-pori kostum mereka yang tebal.
Ini adalah bentuk “zakat kebudayaan” yang paling nyata: komunitas Tionghoa memberikan tontonan kelas dunia secara gratis, sementara warga Muslim memberikan apresiasi berupa kehadiran yang sangat padat dan ramai. Ada simbiosis yang lucu di sini: Barongsai butuh penonton agar ritualnya terasa hidup, dan warga butuh distraksi agar rasa lapar di perut tidak terasa terlalu pedih menusuk lambung yang sudah kosong sejak waktu imsak tiba. Jika singa kain itu berhenti menari sebelum jam enam sore, saya yakin warga akan protes bukan karena urusan agama, tapi karena “jam tayang” hiburan mereka dipotong secara sepihak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Antara Simbal dan Bedug yang Saling Menunggu
Jalanan depan kelenteng sore itu, jika kita lihat menggunakan kaca mata sosiologi agama, telah berubah menjadi apa yang disebut sebagai “ruang ketiga” yang sangat inklusif bagi siapa saja tanpa terkecuali. Tidak ada sekat antara si kaya dan si miskin, antara penganut Konghucu dan penganut Islam yang sedang menanti maghrib tiba. Batas-batas identitas itu melebur bersama debu jalanan dan asap knalpot motor yang mencari tempat parkir paling strategis untuk melihat atraksi naga. Barongsai sukses menjadi “magnet sosial” yang menyedot ego manusia ke dalam satu titik kekaguman yang bersifat universal dan mendalam.
Ciamis telah menciptakan model toleransi yang “organik” dan tidak dibuat-buat hanya demi pencitraan di depan kamera wartawan yang meliput berita. Kerukunan di sini tumbuh dari rasa saling membutuhkan: butuh hiburan, butuh pengakuan, dan butuh rasa aman dalam menjalankan ritual masing-masing dengan penuh khidmat. Namun, tentu saja ada sindiran halusnya: jangan sampai kerukunan ini hanya muncul saat ada Barongsai yang salto, sementara di hari biasa kita masih sering sinis jika ada tetangga yang berbeda cara sembahyangnya dengan kita yang merasa paling benar sendiri.
Ketika jarum jam mulai mendekati angka sakral pukul enam kurang sepuluh menit secara pasti. Tiba-tiba, pesona Barongsai yang tadinya luar biasa mendadak memudar seiring dengan suara masjid yang mulai berbunyi. Massa yang tadinya terhipnotis oleh liukan naga, mendadak mengalami “pergeseran iman” menuju arah gerobak gorengan dan kedai es buah yang sudah antre panjang sekali.
Naga boleh saja mengeluarkan api dari mulutnya, tapi ia takkan sanggup melawan daya tarik sebutir kurma dan segelas teh manis hangat yang sudah menanti di meja makan keluarga. Ini adalah pengingat bahwa di Indonesia, setinggi-tingginya nilai seni dan budaya, ia tetap harus tahu diri untuk berhenti sebelum azan dikumandangkan oleh muazin yang suaranya merdu. Toleransi kita adalah toleransi yang “kenyang”: kita rukun saat nonton, tapi kita jauh lebih rukun lagi saat makan bersama di waktu berbuka puasa yang penuh barokah dan suka cita.
Merawat Harapan di Kota Manis Ciamis
Peristiwa Cap Go Meh 2026 di Ciamis adalah cermin besar bagi bangsa ini untuk berkaca dengan penuh rasa syukur dan bangga. Kita tidak butuh banyak aturan yang mengekang ekspresi budaya, selama setiap pihak punya rasa “tepo seliro” dan tahu kapan harus beraksi serta kapan harus memberi ruang bagi yang lain untuk berdoa. Ciamis telah memberikan pelajaran berharga: bahwa perbedaan warna kulit dan keyakinan bisa menjadi satu warna pelangi yang indah, asalkan kita semua punya selera humor yang bagus dan perut yang bisa diajak bekerja sama dengan penuh kesabaran ekstra.
Semoga naga Galuh tetap meliuk di tahun-tahun mendatang, dan semoga takjil di Ciamis tetap manis semanis hubungan antar-umat beragama yang sudah terjalin sangat lama. Mari kita jaga api toleransi ini agar tidak hanya menyala saat lilin kelenteng dibakar, tapi tetap hangat di dalam hati kita masing-masing, meski Ramadan telah usai dan Barongsai telah kembali masuk ke dalam gudang untuk beristirahat dengan tenang dan damai selamanya.
Selamat merayakan keberagaman dengan tawa, karena hanya dengan tawa kita bisa melihat bahwa perbedaan itu sebenarnya hanyalah variasi bumbu agar hidup kita tidak hambar seperti nasi tanpa lauk yang nikmat rasanya. Ciamis memang top, naga memang hebat, tapi bakwan dan es teh manis tetaplah juara di hati kita semua saat maghrib tiba dengan penuh kehangatan dan rasa syukur yang tiada terkira nilainya.
Editor: Andi Surianto









