Menata Ulang Tata Ruang, Menjaga Masa Depan Pulau Sumatra

Banjir di Sumatra pada 25 November–Desember lalu akibat curah hujan dengan intensitas tinggi telah menyebabkan 604 orang meninggal dunia, 464 orang hilang, dan 2.600 orang luka-luka. Sekitar 1,5 juta orang terdampak, 578 ribu orang harus mengungsi.
Kendati demikian, kondisi di beberapa wilayah saat ini sudah mengalami kesurutan. Namun, akses jalan, listrik, dan jaringan internet terputus, sehingga masih sulit untuk dijangkau, sementara kebutuhan pengungsian semakin terbatas.
Bahkan sejumlah desa dilaporkan hilang setelah adanya banjir yang melanda, berubah menjadi alur sungai akibat derasnya arus air. Sebab, sebagian besar wilayah yang terkena dampaknya adalah desa. Beberapa desa yang tadinya permukiman kini hilang, berubah menjadi arus utama sungai.
Selain permukiman warga, sejumlah fasilitas publik tingkat desa juga dilaporkan rusak, seperti kantor desa, posyandu, dan infrastruktur dasar lainnya, yang meliputi 3.600 rumah rusak berat, 299 jembatan, dan 323 fasilitas publik. Total kerugian bencana banjir di Sumatra itu mencapai 6,28 triliun. Ini merupakan angka yang fantatis. Kerusakan ini berdampak pada layanan pemerintah desa dan kebutuhan dasar masyarakat.
Peristiwa ini mendapat perhatian yang luas dan memunculkan pertanyaan mengenai faktor penyebab terjadinya banjir bandang hingga melanda begitu parah. Penyebab utamanya memanglah curah hujan yang sangat tinggi. Wilayah Sumatra Utara juga sedang berada di puncak musim hujan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan mencapai 150-300 milimeter terbentuk pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar Sumatra Utara. Sistem tersebut berkembang menjadi siklon tropis yang terbentuk di sekitar selat malakan dan bergerak ke barat, meningkatkan terbentuknya awan hujan.
Selain faktor meteorologi terjadinya banjir di Sumatra itu disebabkan karena kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar. Selain itu, kondisi siklus lingkungan mengalami penurunan akibat ulah tangan usil yang membuang sampah sembarangan di sungai, sehingga menyebabkan air sungai menguap ke atas sampai terjadi banjir. Sebab tumpukan sampah seperti plastik, kayu, sampah basah menutup aliran sungai.
Menurut saya solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir di Sumatra adalah harus menata ulang tata ruang. Hal ini adalah konsekuensi bagi kita sebagai manusia, mengembalikan hutan-hutan yang sudah digundul dan daerah yang resapannya lemah, melarang pembangunan di tempat yang bisa menyebabkan banjir atau tanah longsor, mengatur ulang pemukiman dan industri agar sesuai dengan peraturan lingkungan, memperluas penghijauan, dan memperbanyak area resapan air agar banjir tidak terjadi lagi.
Musibah yang terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan sungai memiliki kemungkinan besar terjadi di beberapa wilayah selain Sumatra. Karena itu, saya berpendapat bahwa pemerintah daerah perlu melakukan tindakan yang lebih tegas dalam menertibkan pembangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang sehingga bisa menyebabkan banjir yang terus-menerus setiap tahunnya. Kita sebagai masyarakat juga memiliki tanggung jawab mulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar, seperti tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke sungai, menanam pohon di sekitar lingkungan, hingga mendukung kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Banjir bukan sekadar masalah pemerintah tetapi juga masalah bersama yang memengaruhi kehidupan banyak orang. Walhasil, banjir yang melanda pulau Sumatra itu cerminan dari hubungan manusia dengan lingkungan yang mulai rapuh, jika kerusakan lingkungan dan ekosistem ini dibiarkan maka banjir tidak hanya menjadi peristiwa tahunan, tetapi akan menjadi krisis ekologis yang lebih besar. Maka dari itu kita sebagai pemerintah dan masyarakat harus mengambil langkah yang lebih serius untuk menyelamatkan dan mencegah terjadinya siklus banjir di pulau Sumatra yang terus tak berujung reda.
Sebagai penutup, banjir di Sumatra bukanlah takdir yang tidak bisa diubah, peristiwa itu adalah buah dari keputusan tata ruang yang kurang tepat, dan dapat diperbaiki dengan perencanaan ulang yang lebih bijak dan berkelanjutan. Dengan menata ulang tata ruang Sumatra, kita bukan hanya memutus siklus banjir tetapi juga menjaga masa depan pulau yang kaya sumber daya itu agar tetap layak dihuni untuk ke depannya.
Editor: Ihya Ulumuddin





