Menanam Dialog Sedini Mungkin

Di balik rimbunnya perkebunan kopi di Pekon Jagaraga, Lampung Barat, sebuah tragedi pecah yang meninggalkan aroma amis darah di tengah harum panen. Resa Anggara (25) tewas di tangan MA (24). Bukan karena perampokan, bukan pula karena duel maut yang spontan, melainkan karena sebuah penyakit kronis yang kita sebut: dendam lama.
Polisi bergerak cepat, pelaku menyerahkan diri, dan pasal pembunuhan berencana pun disiapkan. Namun, jika kita hanya melihat ini sebagai perkara kriminal biasa, kita kehilangan kesempatan untuk membedah “kanker” sosial yang sedang menggerogoti nalar sehat masyarakat kita.
Ketika Alat Kerja Berganti Fungsi
Ada ironi yang menyesakkan saat melihat barang bukti yang disita polisi: sebilah golok dan satu pucuk senapan angin. Di wilayah agraris seperti Lampung Barat, kedua benda ini adalah kawan karib petani. Golok untuk mematun rumput, senapan untuk menghalau hama. Keduanya adalah instrumen produksi untuk menyambung hidup.
Namun, dalam hitungan detik, instrumen hidup itu bermutasi menjadi mesin pencabut nyawa. Secara kritis, kita melihat adanya banalitas kekerasan yang lahir dari kedekatan fisik manusia dengan alat-alat mematikan. Karena “senjata” itu selalu ada di genggaman, jeda antara niat jahat dan eksekusi menjadi sangat tipis.
Dalam sosiologi, ini adalah alarm bagi kita. Ketika alat yang seharusnya digunakan untuk menaklukkan alam justru digunakan untuk menaklukkan sesama manusia, ada yang patah dalam nilai-nilai kemanusiaan kita di tingkat yang paling dasar.
Mengapa “dendam lama” harus berakhir dengan leher yang terputus? Jawaban paling pahitnya adalah: karena laki-laki kita sering kali tidak dididik untuk mengelola luka.
Dalam konstruksi sosial kita, laki-laki dituntut untuk menjadi sosok yang tangguh, keras, dan—yang paling berbahaya—diam. Bicara soal sakit hati dianggap lemah; mengadu dianggap kekanakan. Akibatnya, emosi negatif tidak terproses, melainkan mengendap, membatu, dan menjadi fosil dendam.
MA membawa dendam itu selama bertahun-tahun dalam kesunyian. Karena tidak ada ruang dialog yang sehat, ia memilih jalan “kejantanan” versi gelap: agresi fisik. Ini adalah potret maskulinitas toksik yang masih sangat kental di ruang-ruang rural. Golok menjadi pengganti lidah yang kelu, dan darah menjadi cara untuk memulihkan harga diri yang ia rasa telah tergores.
“Kekerasan adalah pengakuan bahwa komunikasi telah gagal total. Saat kata-kata tak lagi punya kuasa, goloklah yang mengambil alih mandat.”
Retaknya Utopia Desa
Kita sering meromantisasi desa sebagai tempat yang “guyub”, di mana semua orang saling mengenal dan menjaga. Namun, kasus di Lampung Barat ini—dan juga tren kekerasan sadis di Bali—menunjukkan fenomena yang berbeda: atomisasi sosial.
Bagaimana mungkin dendam lama antara dua pemuda yang bertetangga kebun bisa luput dari radar komunitas? Di mana peran tetangga, tokoh masyarakat, atau pranata adat?
Faktanya, masyarakat kita mulai mengalami kelelahan sosial. Ada kecenderungan untuk bersikap apatis dengan dalih “tidak mau ikut campur urusan orang”. Keheningan kolektif inilah yang memberikan ruang bagi kebencian untuk tumbuh subur. Kita mungkin tinggal bersebelahan, tapi kita secara emosional terisolasi. Inilah yang disebut sebagai social silence—sebuah kondisi di mana komunitas hadir secara fisik, namun absen secara fungsi sebagai mediator konflik.
Negara memang hadir melalui aparat kepolisian dan pasal-pasal dalam KUHP baru. Namun, jujur saja, kehadiran hukum selalu bersifat reaktif. Ia hanya datang saat jenazah sudah terbujur kaku.
Hukum kita sibuk menghukum pelaku, tapi jarang menyentuh akar budayanya. Jika kita hanya mengandalkan penjara tanpa memperbaiki literasi emosi di tingkat akar rumput, kita hanya sedang memadamkan api dengan bensin. Pelaku mungkin mendekam di balik jeruji, tapi benih-benih dendam baru di tempat lain tetap dibiarkan tumbuh tanpa intervensi.
Kita butuh lebih dari sekadar penegakan hukum; kita butuh rekonstruksi sosial.
Menanam Dialog, Bukan Sekadar Kopi
Kejadian di Lampung Barat adalah cermin retak bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau produktivitas komoditas. Apa gunanya panen kopi yang melimpah jika rasa aman di ladang sendiri telah sirna?
Kita harus mulai berani merombak cara kita mendidik generasi muda, terutama laki-laki. Kita butuh keberanian untuk mengajarkan bahwa harga diri tidak terletak pada kemampuan membungkam lawan dengan senjata. Keberanian sesungguhnya adalah keberanian untuk menuntaskan masalah lewat meja dialog, bukan lewat ayunan golok.
Ladang kopi seharusnya menjadi tempat di mana masa depan tumbuh, bukan menjadi saksi bisu atas hilangnya nyawa manusia hanya karena ego yang tersumbat. Sudah saatnya kita menanam benih dialog sedini mungkin, sebelum tangan-tangan yang lain kembali meraih gagang senjata.









