Memaafkan Segalanya

Di bawah langit kelabu yang meneteskan air mata abadi,
seperti hujan malam yang tak pernah puas
membasahi tanah kering kerinduan,
aku bertanya pada angin yang berbisik pelan:
apakah cinta datang karena kesiapan jiwa,
atau tiba-tiba seperti daun yang terlepas dari rantai rantingnya,
jatuh ke pelukan tanah tanpa ampun?
Angin itu membawa aroma musim gugur,
aroma daun busuk yang menyisakan pilu,
seolah menjawab bahwa cinta lahir dari
kehampaan, dari lubang-lubang
hati yang ditinggalkan badai masa lalu.
Aku duduk termenung di pinggir jalan,
di sebuah warung kuning,
ditemani asap rokok yang mengepul perlahan
dan sebotol Golda yang hangat.
Di antara hiruk pikuk yang berlalu-lalang,
aku bertanya lagi pada bisik angin malam:
apakah cinta dibentuk oleh
kesendirian yang sepi bagai gua kosong, atau oleh
bayang-bayang objek eksternal yang menari-nari
mengikuti fantasi rapuh seperti kabut pagi?
Pertanyaan itu menggenggam hatiku erat, seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah retak, menuntut jawaban dari pikiran yang lelah atau hati yang haus akan kebenaran.
Dan apakah perasaan ini, seperti bunga liar yang tumbuh di celah batu, akan terus mekar tanpa henti, membiarkan setiap kelopak ekspresi terbuka lebar untuk orang yang dicinta, meski angin dingin mengancam merenggutnya?
Bagiku, dasar cinta adalah pertemuan dua jiwa yang mengalir seperti sungai ke muara samudra, tanpa riak antagonis atau kabut ketidakpercayaan yang menyelimuti. Motto cinta bukan “Saling Memaafkan” yang terdengar seperti belenggu pengampunan paksa, melainkan “Pahami satu sama lain”, seperti kabut yang perlahan tersingkap oleh sinar fajar.
Seperti yang pernah kubaca dari Madame de Stael, “Memahami segala sesuatu berarti memaafkan segalanya”, tapi kutipan itu kini terasa dingin bagai embun pagi yang menguap sia-sia. Karena memahami sudah cukup, seperti pelukan angin malam yang lembut; sisanya hanyalah ego, bayang hitam yang merayap di sudut hati, menolak untuk mendekat.
Cinta buta takkan buta jika melihat bahwa perbandingan antara yang lama—seperti pohon tua yang akarnya patah—dan yang baru—seperti tunas hijau yang gemetar—hanyalah ilusi untuk membuktikan ketidakabadian perasaan. Bukan sekadar tawa yang bergema seperti gema gua, tapi kealamian hati yang sederhana, seperti air terjun yang jatuh tanpa ragu, diselimuti kebaikan yang hangat bagai selimut kabut pegunungan. Aku takkan memilih masa lalu yang seperti reruntuhan istana angin, atau yang baru yang masih rapuh seperti kelopak mawar di ujung musim; perasaanku terletak pada langkah pelan, pasti, seperti kaki penari yang menari di atas daun gugur, menuju cahaya yang samar namun menjanjikan.
Cinta membutuhkan ruang pertumbuhan bebas dari duri trauma masa lalu, yang seperti semak belukar liar menghalangi jalan, dan ketidakpercayaan yang dingin bagai salju abadi di puncak gunung sunyi. Tuntutan kesetaraan dalam kisah cinta seringkali adil di permukaan, seperti cermin yang retak, tapi hak sejati adalah hak untuk mencintai dan dicintai, seperti burung yang terbang bebas di langit tanpa jerat. Kepicikan memisahkan seperti badai yang merobek awan, sedangkan keterbukaan menyatukan seperti jembatan tali dari benang kabut. Mari kita buka dada lebar-lebar terhadap curahan hati pasangan, seperti bumi yang menerima hujan deras; jangan abaikan yang kecil, karena hubungan bertahan pada tetesan embun yang dihargai, bukan sungai deras yang terlupakan.
Apakah cinta itu gratis?
Manusia bisa membeli otak, tetapi hampir jutaan orang gagal untuk membeli cinta. Manusia memiliki daya yang besar, tetapi semua kekuatan tidak mampu menaklukan cinta. Manusia telah menaklukan bangsa-bangsa di seluruh dunia, tetapi semua tentaranya tidak mampu menaklukan cinta. Manusia mampu membelenggu dan merantai jiwa. Tetapi, dia sama sekali tak berdaya di hadapan cinta. Bahkan melalui tahta-pun, dengan segala keagungan dan kemegahan emas yang atasnya manusia mampu memberi perintah apa saja, ia tetap menjadi manusia yang miskin dan sunyi, jika cinta tidak mampir ke hatinya. Dan kalaupun cinta akan mampir, bahkan gubuk yang paling miskin-pun akan bersinar dengan penuh kehingaran, penuh kehidupan dan warna.
Cinta punya sihir untuk mengangkat pengemis menjadi raja di kerajaan hati, bebas seperti burung elang yang melayang di awan kelabu. Ia memberi diri tanpa syarat, berlimpah seperti sungai musim hujan, memperjuangkan perasaan hingga menjadi abadi. Cinta tak butuh pelindung, ia punya perisainya sendiri dari sayap-sayap kepercayaan; selama menciptakan kenyamanan seperti pelabuhan tenang di malam badai, tak ada lagi perasaan terlantar, seperti kapal yang akhirnya berlabuh setelah mengarungi ombak pilu.








