Maskumambang Diborgol

Tohari pertama kali mengenal Gunung Maskumambang bukan dari cerita angker, melainkan dari sunyi. Sunyi yang tidak kosong. Sunyi yang seperti menunggu seseorang berbicara, lalu memilih diam kembali. Sejak kecil, ia tahu ada tempat-tempat yang tak boleh dipanggil sembarangan. Hutan Maskumambang salah satunya.
Ayahnya dulu sering mengajaknya naik sampai batas tertentu, lalu berhenti. Tidak pernah melewati garis pohon tua yang akarnya menyembul seperti jari-jari raksasa.
“Cukup sampai sini,” kata ayahnya.
“Bukan karena kita takut. Tapi karena kita tahu diri.”
Kini ayahnya telah lama mati, dan garis itu tinggal kenangan yang samar. Yang tersisa hanyalah Tohari, lelaki lima puluh tahun dengan punggung mulai membungkuk, bekerja serabutan sebagai penunjuk jalur dan penjaga tak resmi hutan—pekerjaan yang lebih mirip kebiasaan daripada profesi.
Kabar tentang megaproyek bandara datang seperti angin kering. Cepat, menyebar, dan membawa rasa tak nyaman. Bandara internasional, kata orang-orang. Di Kediri. Di lereng Maskumambang.
Tohari mendengarnya pertama kali dari warung kopi dekat pasar. Orang-orang membicarakannya dengan mata berbinar. Lapangan kerja. Jalan baru. Hotel. Nama Kediri disebut-sebut akan naik kelas.
Tohari tidak ikut menyela. Ia hanya mengaduk kopi, mendengar kata pembangunan diulang-ulang seperti mantra yang tak boleh dipertanyakan.
***
Rapat sosialisasi di balai desa penuh. Kursi plastik berderit, kipas angin berdengung malas. Spanduk besar digantung miring: Pembangunan Infrastruktur untuk Masa Depan.
Seorang pejabat muda berbicara lancar, menunjukkan gambar-gambar bandara yang mengilap. Pesawat mendarat mulus di landasan yang dulu adalah hutan.
“Gunung Maskumambang tidak akan rusak,” katanya.
“Kami sudah kaji AMDAL. Semua aman.”
Di barisan belakang, Mbah Samin berdiri perlahan. Usianya hampir delapan puluh, tubuhnya kurus, tapi suaranya masih punya bobot.
“Maskumambang iku dudu barang kosong,” katanya.
“Ia nduwe karep. Kalau kalian paksa, ia akan ngomong.”
Beberapa orang tertawa kecil. Ada yang berdehem. Seorang mandor bersandar sambil berbisik,
“Masih percaya beginian.”
Pejabat itu tersenyum, sabar tapi dingin.
“Kami menghormati kearifan lokal. Tapi pembangunan tidak bisa berhenti karena mitos.”
Kata mitos jatuh seperti palu kecil. Tidak keras, tapi tepat.
Tohari menunduk. Ia tidak ikut membela Mbah Samin. Tidak juga ikut menertawakan. Ia diam—dan untuk pertama kalinya, ia merasa diam itu bukan netral.
***
Penebangan dimulai awal musim kemarau. Hari pertama, gergaji mesin mati berkali-kali. Operator mengumpat. Ekskavator mogok. Baut patah tanpa sebab.
“Teknis,” kata mandor. Tapi wajahnya tegang.
Hari kedua, seorang pekerja jatuh. Ia bersumpah kakinya ditarik sesuatu. Yang lain mengaku mendengar suara perempuan tertawa pendek dari balik semak.
Tohari ikut di lokasi sebagai penunjuk jalur. Ia mendengar semuanya. Ia juga mendengar suara lain—seperti desahan panjang dari dalam tanah, nyaris tak terdengar, tapi membuat dadanya sesak.
Proyek dihentikan sementara. Malamnya, sebuah mobil datang tanpa suara. Dari dalamnya turun seorang lelaki pincang, bersarung lusuh, matanya kecil tapi tajam.
Ki Bajul Buntung.
Tohari mengenalnya dari cerita-cerita lama. Dukun yang pandai
“meluruskan” hal-hal yang enggan lurus.
Ki Bajul Buntung bekerja diam-diam. Sesaji ditanam. Darah ayam mengalir ke tanah. Mantra dirapal bukan untuk meminta izin, melainkan untuk menekan.
Angin berputar aneh. Daun-daun bergetar tanpa arah.
Tohari menonton dari jauh. Ia bisa saja pergi. Ia bisa saja menutup mata. Tapi ia memilih tinggal—dan pilihan itu kelak akan menghantuinya.
Keesokan paginya, semua alat bekerja.
***
Penebangan berlangsung cepat. Terlalu cepat. Seperti sesuatu yang dikejar waktu.
Setiap pohon yang tumbang mengeluarkan suara. Bukan suara kayu patah. Melainkan raungan—panjang, berat, seperti napas terakhir yang ditahan paksa.
Pekerja mempercepat gerak. Tidak ada yang mau mendengar terlalu lama.
Tohari menerima amplop dari mandor suatu sore. “Buat tambahan,” katanya ringan.
Amplop itu tidak tebal. Tapi beratnya terasa lain. Tohari sempat ragu. Lalu mengingat rumahnya yang bocor, anaknya yang belum dapat kerja. Ia menerima.
Malamnya, raungan itu terdengar lebih dekat. Tohari terbangun, duduk lama di tepi ranjang. Ia tahu, sebagian borgol itu ikut dipasang oleh diamnya sendiri.
“Maskumambang diborgol,” kata Mbah Samin suatu sore, suaranya lirih.
“Tapi borgol itu tidak akan membuatnya menyerah”
Beberapa hari kemudian, Mbah Samin sakit. Tidak lama setelah itu, ia meninggal.
***
Hutan gundul. Tanah terbuka. Akar-akar terpotong seperti urat yang dicabut paksa.
Bandara berdiri megah. Peresmian meriah. Foto-foto pejabat terpampang di koran. Tohari melihatnya sambil minum kopi yang kini terasa pahit.
Lalu hujan datang.
Banjir pertama turun deras dari lereng. Air membawa lumpur, batu, dan sisa batang pohon. Sawah rusak. Rumah terendam.
“Itu cuaca ekstrem,” kata pejabat di televisi.
Gempa kecil menyusul. Retakan muncul di terminal bandara. Orang-orang mulai resah.
Suatu subuh, suara gemuruh terdengar dari Maskumambang. Asap tipis naik. Abu turun seperti debu halus di atap rumah.
Orang-orang terdiam. Tidak ada yang bertepuk tangan.
***
Rapat demi rapat digelar. Semua bicara. Tidak ada yang mendengar.
“Ini kesalahan kontraktor.”
“Ini bencana alam.”
“Kami hanya menjalankan prosedur.”
Nama Maskumambang tidak pernah disebut. Nama Mbah Samin apalagi.
Tohari berdiri di ujung landasan bandara saat senja. Angin membawa suara yang tidak lagi marah, melainkan dingin—seperti keputusan yang sudah diambil lama.
Ia merogoh saku, menemukan sisa amplop lusuh. Tangannya gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta maaf pada Maskumambang. Ia tahu maaf saja tidak cukup.
Ia hanya berdiri, kecil, di hadapan gunung yang kini tidak lagi sunyi.
Raungan itu terdengar sekali lagi—pelan, jauh, tapi pasti.
Bukan ancaman.
Bukan ratapan.
Seperti catatan yang tidak akan dihapus.
Penulis: M. Afin Masrija
Editor: Farhan Azizi









