Malaikat di Siang Bolong

Siang masih jauh, dan pagi baru datang. Tapi terdengar bising sekali di depan rumahku. Usut punya usut, Pak Hakim, tetangga depan rumahku, dapat undian berhadiah. Jumlahnya cukup besar bagi orang-orang kecil seperti kami: sepuluh juta rupiah. Kabar itu sontak saja membuat seluruh warga desa berdatangan.

Sebenarnya, nasib mujur Pak Hakim tidak lebih dari sekadar keberuntungan dan rezeki. Tapi banyak orang mulai bertanya-tanya amalan apa yang dikerjakannya sehingga dapat rezeki nomplok puluhan juta rupiah. Pak Hakim terlihat berpikir agak lama, lalu ia bilang tidak tahu. Tak lama, seperti mengingat sesuatu, ia bilang:

“Kemarin siang saya bersedekah kepada pengemis di dekat alun-alun sana.”

Mendengar pernyataan itu, orang-orang menjadi semacam terobsesi untuk memberi sedekah kepada pengemis. Hari-hari setelah itu, tiap kali ada pengemis, pasti orang-orang akan berlomba-lomba untuk bersedekah. Bu Ika, tetangga yang rumahnya cukup dekat dengan Pak Hakim, pun turut melakukan hal yang sama. Bahkan, ia tidak hanya bersedekah dalam bentuk uang, ia juga memberi makan kepada para pengemis.

Muncul anggapan bahwa pengemis adalah malaikat yang menyamar, dan siapa saja yang bersedekah serta berbuat baik pada pengemis itu akan mendapat rezeki yang tak disangka-sangka seperti Pak Hakim. Anggapan yang sangat keliru dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya itu serta-merta saja dipercaya warga desa. Akhirnya, para pengemis malah merasa aji mumpung dan memanfaatkan situasi itu. Dari alun-alun, mereka mulai berpindah ke desa itu.

Tanpa seorang pun curiga, di antara para pengemis itu ada seorang pencuri yang menyamar. Pencuri itu mencari kesempatan untuk melihat-lihat kondisi rumah warga yang akan menjadi korbannya. Pada suatu siang, Bu Ika memberi uang cukup banyak kepada pengemis itu. Ia juga terlihat mengobrol di teras rumahnya ketika hari hampir sore.

Bu Ika adalah seorang janda kaya, hanya punya seorang anak yang merantau ke Kalimantan, hidup sendiri di rumahnya yang cukup besar dan mentereng. Ia juga terkenal pelit, sehingga ketika ia memberi sedekah kepada pengemis, kabar itu menjadi buah bibir warga desa.

“Sasaran empuk,” pikir si pencuri. Seorang janda kaya yang menempati rumah mewah, pelit, dan selalu menyimpan uang di lemari karena tidak percaya dengan bank. Hal itu ia ketahui ketika mengobrol dengan Bu Ika tempo hari. Pada satu hari Jumat, ketika para lelaki Jumatan dan desa mulai sepi, si pencuri mengintai di hutan belakang rumah Bu Ika.

Hari Jumat adalah jadwal rutin pengajian ibu-ibu di desa itu. Si pencuri menunggu Bu Ika meninggalkan rumah. Setelah merasa cukup aman, ia pun masuk dan mulai melancarkan aksinya. Sialnya, Bu Ika kembali lagi ke rumahnya karena lupa membawa minyak wangi. Si pencuri panik dan bersembunyi di bawah ranjang. Hatinya tak menentu.

Entah dirasuki setan apa, pencuri itu memutuskan untuk menghabisi nyawa sang janda kaya. Ia keluar dari bawah ranjang ketika Bu Ika membuka lemari untuk mengambil minyak wangi. Bu Ika membalikkan badannya dan terkejut mendapati si pencuri yang bodohnya beraksi tanpa penutup wajah.

“Ngapain kamu di dalam kamar saya?” Dengan segenap keberanian yang masih tersisa dan sedikit gemetaran, Bu Ika menghardik. Lebih menakutkan lagi karena ia mengenal pencuri itu yang sebelumnya ia kenal sebagai salah satu pengemis.

Si pengemis, alias si pencuri itu, tak menjawab. Ia mengeluarkan linggis dan langsung menghantam kepala Bu Ika. Tubuhnya rubuh, darah segar mengalir dari kepalanya yang ditutup kerudung putih. Sebelum sempat berteriak, pencuri itu memukulinya dengan membabi buta. Kesadarannya mulai hilang.

Bu Ika berhenti meronta, pandangannya kabur dan perlahan hilang, digantikan warna hitam pekat. Wanita paruh baya itu meninggal. Panik, si pencuri berlari tunggang-langgang. Mayat Bu Ika baru ditemukan beberapa jam kemudian ketika ibuku mengecek rumahnya karena lampu tak kunjung dinyalakan ketika hari mulai gelap. Ya, siang itu ia memang didatangi malaikat, tetapi bukan malaikat pembawa rezeki, melainkan malaikat pencabut nyawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *