Ketakutan-ketakutan yang Kerap Menghantui Jika Harus Menambah Anak Lagi

Terlepas dari persoalan yang katanya banyak anak banyak rezeki, tidak sedikit para ibu yang begitu keras memikirkan—menciptakan diskusi-diskusi panjang bersama pasangan, lalu kembali menimbang-nimbang sampai pada akhirnya membuat keputusan untuk menambah lagi anak dalam keluarga atau cukup dengan yang sudah ada saja.

Terlebih bagi mereka pasangan muda yang memulai kehidupan rumah tangga benar-benar dari nol. Pasangan-pasangan yang melek dan jeli akan berbagai problema kehidupan dewasa ini. Ada serentetan ‘PR’ yang menuntut untuk segera dirampungkan. Menikah tidak ujug-ujug untuk mempunyai momongan lalu menambahnya terus sampai beberapa kali tanpa memikirkan amunisi yang harus dipenuhi. Itulah salah satu gunanya kita diciptakan sebagai makhluk yang berpikir.

Aku perempuan yang sudah memasuki kepala tiga di tahun ini, memutuskan menikah di usia 26 tahun dan sekarang memiliki seorang anak perempuan berusia 3 tahun. Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran sudah cukup membuat bising di kepala, entah itu dari pihak keluarga, teman-teman dekat, atau yang dengan sendirinya terlintas di pikiran. Ada yang bertanya, kapan mau hamil lagi supaya punya juga anak laki-laki jadinya pas sepasang—sudah seperti pengatur takdir saja, seolah sudah tahu anak yang kulahirkan selanjutnya adalah laki-laki, pikirku.

Ada pula yang menimpali, mumpung anak pertama masih mungil segeralah hamil lagi supaya si kecil memiliki teman dan capeknya jadi sekalian gitu mengurus anak, terus nanti kalau sudah pada besar-besar senang hati melihatnya. Aku benar-benar tercengang mendengar motivasi yang satu ini, seolah-olah orang itu turut berkontribusi dalam lelahnya mengurus anakku kelak.

Kalau membayangkan aneka iming-iming yang ditawarkan kebanyakan orang, memang rasanya bahagia dan pengen beranak terus. Aku juga pernah dengan sangat sadar bersama pasangan menyebutkan begitu gamblang ‘ingin punya anak tiga’ dengan dalih tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit, cukuplah sesuai dengan kadar kemampuan kami.

Nyatanya setelah mengalami sendiri proses tersebut, melalui serentetan drama panjang mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, dan bahkan sampai saat ini; ada beberapa fase teramat berat yang kulalui dan kurasakan seorang diri, seakan mempertaruhkan kehidupanku sendiri untuk mendapatkan gelar ‘ibu’. Meski sudah berlalu dan merasakan diri baik-baik saja saat ini, aku tidak pernah sedikit pun melupakan betapa kondisi tersebut begitu menyakitkan, lukanya masih dalam membekas. Bahkan traumanya membuatku begitu keras memikirkan apakah fisik dan psikisku cukup mampu jika fase itu akan terulang lagi.

Bedrest parsial saat hamil

Sungguh, aku benar-benar takjub melihat banyak ibu hamil di luaran sana yang sama sekali tidak merasakan betapa menyiksanya fase morning sickness. Aku mengalami kondisi ini dengan tingkatan menuju parah. Tidak ada makanan yang dapat kutelan dengan baik, semua yang masuk ke dalam mulut dan melalui kerongkongan berhasil keluar lagi karena mual dan muntah yang hebat. Begitu pun dengan obat-obatan.

Beberapa hari tidak makan tentu saja membuat tubuh lemah tak berdaya dan suami menemukanku dengan keadaan tidak sadarkan diri, sebelum akhirnya dilarikan ke klinik terdekat untuk dirawat inap. Ketika sudah sepenuhnya sadar, aku tidak ingin berlama-lama berada di tempat tersebut. Aku bersikeras meminta pulang padahal belum cukup pulih benar. Kami pun diizinkan pulang berbekal banyak obat-obatan yang mesti ditenggak sekaligus perintah untuk bedrest.

Saat itu kondisi keuangan keluarga sedang tidak begitu baik dan posisi juga jauh dari orang tua maupun saudara. Di rumah kecil kami, aku dan suami saling menguatkan satu sama lain. Aku sudah berserah diri dengan kondisi kehamilan yang melemahkanku ini berbulan-bulan lamanya.

Menjalani operasi sebelum dan setelah melahirkan anak

Oleh karena satu dan lain hal, aku memilih persalinan dengan jalan operasi atau sesar. Namun siapa sangka, selang dua minggu setelah anak kami lahir, aku harus menjalani operasi lagi dikarenakan terjadi infeksi pada bekas jahitan operasi persalinan tadi.

Kedua operasi yang aku jalani ini melalui anestesi umum alias bius total. Jangan ditanya seberapa ketakutan yang kurasakan ketika itu. Pada dasarnya tindakan dengan bius epidural saja sudah cukup, namun mengingat betapa panik dan gelisahnya aku sejak memasuki ruangan operasi hingga menangis hebat tak henti-henti, dokter pun memutuskan untuk melakukan bius total supaya operasi dapat berjalan dengan lancar.

Ketakutan terbesarku saat menjalani operasi sebelum dan setelah melahirkan anak waktu itu hanya satu: bagaimana jika nanti aku tertidur dan tidak bangun lagi untuk selamanya. Melahirkan ini benar-benar menjadikan nyawaku satu-satunya sebagai taruhannya.

Wacana operasi ketiga karena mastitis

Kupikir sudah bisa mengasuh bayi dengan tenteram setelah jor-joran melewati masa hamil dan melahirkan. Ternyata, setelah berlalu kira-kira 2 bulan pasca-persalinan tiba-tiba banget muncul mastitis yang gejalanya lengkap di saat diri mulai bersahabat dengan rutinitas menyusui.

Awalnya hanya bengkak pada bagian mammae atau kelenjar susu, lama-kelamaan menjadi sebuah benjolan merah dan mengeras disertai imun tubuh yang melemah. Rasa sakitnya bukan main apalagi ketika menyusui anak secara langsung, seperti disayat-sayat ditambah badan juga meriang hebat. Setelah dibawa berobat, ternyata itu adalah gejala mastitis yang menurut perkiraan medis disebabkan karena terjadinya sumbatan pada saluran ASI.

Mulailah lagi menenggak berbagai macam obat-obatan untuk menghalau gejala-gejala tersebut. Sampai yang kata orang-orang di kampung bisa sembuh hanya dengan mengunyah gabah lalu ditaburkan ke bagian yang bengkak tersebut, itu pun sudah kulakukan dengan sukarela. Alhasil tidak ada tanda-tanda gejalanya membaik, dokter menganjurkan untuk segera dioperasi karena sudah berada di tingkatan mastitis abses.

Bisa dibayangkan betapa nelangsanya aku ketika itu, belum ada tiga bulan melahirkan sudah mau tiga kali operasi. Seketika terlintas lagi ketakutan-ketakutan jika harus menjalani operasi lagi. Tiba-tiba juga kepikiran, biasanya tahapan beruntung yang kita lalui itu pertama dan kedua, ketiganya bisa jadi sial. Semakin besarlah rasa takut itu menjalar dalam diriku.

Pikir punya pikir, setelah berdiskusi panjang dengan pasangan dan keluarga besar, kami memutuskan untuk berobat lagi ke tempat yang berbeda. Kali ini hanya mengunjungi bidan yang lokasinya tidak jauh dari rumah orang tua. Aku berusaha sekuat mungkin menenangkan diri sendiri supaya keadaan terkendali dan mengikhtiarkan yang terbaik tanpa harus operasi. Di klinik bidan itu, aku hanya berkonsultasi lebih kurang 15 menit, lalu bidan tersebut memberikan semacam obat untuk melunakkan benjolan yang keras, pereda sakit, juga antibiotik.

Masih jelas sekali di ingatanku, tepat hari kedua setelah meminum obat-obatan dari bidan, timbul sekitar tiga mata pada benjolan di kelenjar susu. Dari situlah memancar ASI yang tersumbat tadi disertai nanah dan darah yang jumlahnya tidak sedikit. Hal itu berlangsung setidaknya 2 minggu sampai lukanya menutup sendiri, mengering, dan benjolannya pun berangsur-angsur hilang. Akhirnya tanpa operasi, mastitis abses yang kualami pada masa itu bisa sembuh dengan baik.

Kira-kira sampai di sinilah fase demi fase menakutkan yang kukhawatirkan terulang jika harus memiliki anak lagi. Meskipun ada saja yang dengan luwesnya mengatakan nanti lama-lama juga lupa dengan rasanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mari cukup disenyumin saja orang-orang semacam ini.

Semoga siapa pun orangnya, termasuk aku sendiri, tidak bermudah-mudahan dalam mengatur urusan rumah tangga orang lain, karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberat apa fase hidup yang sudah mereka lewati.

Editor: Andi Surianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *