Jalan Intelektual Sang Penyendiri di Tengah Dekadensi Sosial

Ada momen dalam hidup ketika kita merasa seperti alien di tengah keramaian. Kita duduk di sebuah kafe yang bising, mendengarkan percakapan tentang gosip terbaru atau tren yang dangkal, dan tiba-tiba muncul perasaan asing: Mengapa aku di sini? Mengapa mereka tidak melihat apa yang aku lihat?
Perasaan terasing ini bukanlah penyakit modern akibat media sosial. Sembilan ratus tahun yang lalu, di tengah gemerlap peradaban Al-Andalus yang mulai retak, seorang pemikir jenius bernama Ibnu Bajjah—atau Avempace bagi orang Barat—sudah merumuskan kegelisahan ini dalam sebuah mahakarya berjudul Tadbir al-Mutawahhid.
Ia tidak menulis teori politik untuk raja, melainkan sebuah manual gerilya bagi jiwa: bagaimana cara tetap waras dan jernih di tengah masyarakat yang sudah kehilangan kompas kebenarannya.
Menolak Menjadi Domba
Ibnu Bajjah hidup di masa yang kacau. Spanyol Islam saat itu sedang terkoyak oleh fanatisme agama dan intrik politik. Baginya, ketika sebuah masyarakat sudah mencapai titik di mana kebenaran dianggap ancaman dan kebodohan dirayakan, maka upaya memperbaiki negara secara kolektif sering kali menjadi kesia-siaan yang berbahaya.
Di sinilah ia memperkenalkan konsep Tadbir. Jika biasanya kata ini digunakan untuk mengelola negara atau rumah tangga, Ibnu Bajjah menariknya ke dalam ruang paling privat: manajemen diri.
Ia berargumen bahwa seorang yang bijak (al-mutawahhid) harus mampu membangun “negara ideal” di dalam pikirannya sendiri. Pengasingan ini bukan berarti ia harus memanggul tas dan pergi ke puncak gunung menjadi pertapa.
Bukan, sang penyendiri tetap bekerja, tetap bertegur sapa di pasar, namun secara intelektual, ia memasang barikade. Ia menolak untuk membiarkan arus opini publik yang dangkal mendikte bagaimana cara ia berpikir.
Filosofi “Tanaman Liar”
Salah satu metafora paling puitis—sekaligus getir—dari Ibnu Bajjah adalah tentang Nawabit. Secara harfiah, nawabit adalah gulma atau tanaman liar yang tumbuh di kebun yang tertata.
Di mata masyarakat yang seragam dan patuh pada dogma, seorang pemikir bebas adalah gangguan. Mereka adalah “gulma” yang tidak diinginkan karena mereka tumbuh dengan arah yang berbeda.
Namun, Ibnu Bajjah justru membalikkan logika tersebut. Baginya, di kebun yang sudah terkontaminasi oleh jamur ketidakjujuran, justru “tanaman liar” inilah yang membawa benih kesehatan.
Para Nawabit adalah individu-individu yang berhasil menjaga kemurnian akalnya. Mereka “menyendiri” bukan karena sombong, tapi karena mereka tahu bahwa untuk melihat bintang, kita harus menjauh dari polusi cahaya kota.
Dalam perspektif ini, kesunyian intelektual adalah sebuah tindakan resistensi. Menjadi mutawahhid berarti memiliki keberanian untuk menjadi minoritas di hadapan massa yang irasional.
Seperti yang pernah disinggung oleh Majid Fakhry dalam studinya tentang filsafat Islam, Ibnu Bajjah melihat bahwa kesempurnaan manusia hanya bisa dicapai melalui kontak dengan “Akal Aktif”—sebuah level kesadaran universal yang hanya bisa diakses lewat perenungan mendalam, bukan lewat rapat-rapat politik atau debat kusir di pinggir jalan.
Berteman dengan Pikiran Mulia
Lalu, bagaimana sang penyendiri bertahan hidup tanpa merasa kesepian? Ibnu Bajjah memberikan jawaban yang sangat elegan: carilah komunitas di luar ruang dan waktu. Jika orang-orang di sekitarmu tidak bisa diajak bicara tentang esensi keberadaan, maka berbicaralah dengan Plato, Aristoteles, atau Al-Farabi melalui teks-teks mereka.
Bagi Ibnu Bajjah, seorang filsuf tidak pernah benar-benar sendirian selama ia masih bisa berpikir. Ia berteman dengan ide-ide. Ia menjalin komunikasi dengan para pemikir dari masa lalu yang memiliki frekuensi yang sama.
Pengaruh pemikiran ini sangat terasa pada juniornya, Ibnu Tufail, yang kemudian menulis Hayy bin Yaqzan—kisah seorang anak yang tumbuh sendirian di pulau dan menemukan Tuhan hanya melalui observasi dan akal. Ibnu Tufail seolah ingin membuktikan secara ekstrem teori Ibnu Bajjah: bahwa akal manusia cukup mandiri untuk mencapai kebenaran tanpa perlu bantuan struktur sosial yang korup.
Seni Pengaturan Diri di Dunia Modern
Membaca kembali Ibnu Bajjah di abad ke-21 terasa sangat relevan. Kita hidup di era di mana “kebenaran” sering kali ditentukan oleh jumlah likes atau algoritma. Kita dipaksa untuk terus-menerus terhubung, terus-menerus bereaksi terhadap kebisingan digital.
Tadbir al-Mutawahhid mengajarkan kita untuk mengambil jarak. Ia mengingatkan bahwa kesehatan mental dan intelektual kita bergantung pada kemampuan kita untuk melakukan “solitude” di tengah hiruk-pikuk.
Menjadi penyendiri ala Ibnu Bajjah adalah tentang menjaga integritas batin. Tentang mengetahui kapan harus menutup telinga dari opini massa agar kita bisa mendengar bisikan nurani dan nalar kita sendiri.
Ibnu Bajjah tidak mengajak kita untuk membenci masyarakat. Ia hanya mengingatkan bahwa sebelum kita bisa berkontribusi pada dunia, kita harus terlebih dahulu berdaulat atas diri kita sendiri.
Menjadi “tanaman liar” mungkin melelahkan karena kita harus berjuang melawan arus, namun hanya tanaman liarlah yang biasanya memiliki akar paling kuat dan daya tahan paling tangguh saat badai melanda.
Jika dunia di luar sana sudah terlalu bising untuk masuk akal, mungkin sudah saatnya kita kembali ke dalam, merapikan “negara” di dalam kepala kita, dan menjadi sang penyendiri yang merdeka.









