Hujan Angin di Buku Sejarah dan Puisi Lainnya

Hujan Angin di Buku Sejarah
tempat piknik rusak
karpetnya basah
semua berubah dingin
kaca spion retak lalu luruh
memudarkan huruf-huruf di buku
sejarah tentang dunia abu-abu
akhlak slogan belaka
niscaya tak sulit terwujud
tapi tersembunyi dusta dan gengsi
ribut tak berkesudahan
suara belajar merdeka
meski hidup sudah ditentukan siapa pemenangnya
oleh sesiapa kita berhadap-hadapan
menyampaikan laporan
pertanggunggajawaban kekalahan
Malang, Mei 2022
Dua Periode untuk Kita Mengulang
dua ribu dua puluh dua
suara dua periode untuk kita mengulang hidup ini
dengan langkah terencana
demi suatu laksana yang tanpa satu pun salah
bisakah kita membicarakan dunia tanpa rasa
misalnya mendahulukan pengetahuan
tapi apalah daya, pada siapa saja
tak laki juga wanita, rasa selalu akan ada
ow ow ow … “ping!” suara dering ponsel pintar tanpa getar
menggaruk luka yang sudah mengering
memanaskan air susu ibu yang kering jadi cair
menggizikan busung lapar yang tak berkesempatan belajar
Malang, 18 Oktober 2022
Bulan dan Harapan
malam bagaikan orator ulung kenamaan.
berorasi tentang makna kehidupan:
mengajak semua yang menyaksikannya berpindah haluan:
dari yang tegap dan lantang menjadi terbentang,
terlentang, hingga matang.
bulan acap berguru kepada malam.
namun pada suatu malam yang keramat,
bulan tak bisa berguru. sebab
malam sedang sibuk mengurus binatang-binatang jalang
–yang tak tahu waktu dan mengganggu pertapaan malam
malam menghukum para binatang jalang itu:
mereka dipalingkan dari terangnya pagi dan siang,
dihembuskan musik-musik ketenangan dan
diterbitkan bersamaan dengan mentari terbenam.
“mampus kau dipalang portal dadakan
buatan petugas malam karena virus ketakutan!”
ucap malam kepada para tikus jalang yang
masih rakus meski terinfeksi virus.
“aku tak bisa seperti ini!” keluh bulan
karena keadaan malam yang sibuk terus.
bulan pun memilih belajar mandiri:
dibuatnya kurikulum pendidikan sendiri.
semuanya dilakukan karena suatu harapan:
menjauhkan diri dari sebuah penampilan dan keadaan:
berpakaian rapi, berdasi,
dan terburu-buru di pagi hari.
Malang, 2022
Sandiwara Pagi
matahari menagih janji pada pagi
membangunkan mereka yang semalam menolak berdasi
sehingga kini tergesa-gesa menyetrika kemeja
mengejar absensi yang tak pernah peduli pada jiwa yang tersiksa
katanya kita ini angkatan yang merdeka
tapi merdeka kita cuma sebatas memilih filter wajah di depan kamera
bersembunyi dari realita yang makin telanjang:
bahwa lembar ijazah seringkali cuma tiket masuk sirkus kehidupan
tikus-tikus jalang yang dulu dikutuk dan diusir malam
kini bermutasi memakai jas wangi, tersenyum dari baliho jalanan
“kami pelayan kalian!” teriak mereka lantang
sementara yang dilayani sibuk mengais koin kembalian yang jatuh di selokan
“ting!…” di ponsel pintar kembali memekik
membawa kabar tentang keadilan yang lagi-lagi salah ketik
kita mengutuknya lima menit di kolom komentar yang bising
lalu kembali menunduk, menyeduh mi instan yang bumbunya kurang asin
dunia ini panggung sandiwara yang naskahnya sudah lama bocor
kita tahu siapa yang kelak menang dan siapa yang hancur lebur
tapi pertunjukan harus terus berjalan, bukan?
demi menjaga sisa kewarasan yang kini tinggal sekepal tangan
Surabaya, 2026
Editor: Ihya Ulumuddin





