“Hantu” di Rimba Papua: Eksperimen Kolonial di Boven Digoel

Resensi Hantu Digoel

Judul Buku: Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial
Penulis: Takashi Shiraishi
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, Maret 2001
Tebal: x + 208 halaman
ISBN: 979-8966-78-3

Sejarah sering kali memiliki sisi gelap yang sengaja diparkir di tepian ingatan. Bagi bangsa Indonesia, salah satu titik koordinat yang paling mencekam dalam peta memori kolonial adalah Boven Digoel. Di sebuah kawasan rimba terpencil di pedalaman Papua, sekitar 450 kilometer ke arah hulu Sungai Digoel, pemerintah Hindia Belanda pernah mengoperasikan sebuah instrumen kekuasaan yang unik sekaligus mengerikan. Sejarawan terkemuka asal Jepang, Takashi Shiraishi, melalui bukunya Hantu Digoel, mengajak kita membedah anatomi kekuasaan tersebut bukan sekadar sebagai tempat pembuangan, melainkan sebagai sebuah “hantu” yang didesain untuk melumpuhkan nyali para pejuang kemerdekaan.

Eksperimen “Normal” di Kondisi Abnormal

Shiraishi membuka narasi dengan sebuah tesis yang provokatif: Digoel bukanlah kamp konsentrasi dalam pengertian Nazi. Jika di kamp-kamp Jerman para tahanan disiksa secara fisik atau dieksekusi secara sistematis, di Digoel, Belanda menggunakan metode yang lebih halus namun tak kalah mematikan: isolasi total. Berlokasi di Tanah Merah yang dikelilingi hutan belantara tak bersahabat, rawa penuh nyamuk malaria, dan sungai yang dihuni buaya, para tahanan (internir) dibiarkan “hidup normal” dalam kondisi yang sangat tidak normal.

Di sini, Belanda mempraktikkan apa yang disebut Shiraishi sebagai exorbitante rechten—hak istimewa Gubernur Jenderal untuk membuang siapa pun yang dianggap mengancam ketertiban (rust en orde) tanpa melalui proses pengadilan. Digoel menjadi terminal akhir bagi mereka yang dilabeli sebagai onverzoenlijken atau kelompok “kepala batu” yang emoh bekerja sama. Siksaannya bukan cambuk atau peluru, melainkan rasa sepi yang mencekam, kerinduan kampung halaman, dan ancaman penyakit yang bisa membuat seseorang menjadi gila atau mati perlahan.

Politik Ketakutan yang Terencana

Salah satu kekuatan buku ini adalah analisis Shiraishi mengenai bagaimana Digoel digunakan sebagai alat propaganda. Pemerintah kolonial sengaja tidak membatasi informasi mengenai penderitaan di Digoel. Sebaliknya, berita tentang pengiriman tahanan baru dan surat-surat dari kamp justru sering disebarluaskan di koran-koran Melayu. Tujuannya jelas: menciptakan efek jera bagi kaum bumiputra lainnya.

Efektivitas “hantu” ini bahkan sempat menggoyahkan tokoh sekaliber Soekarno. Shiraishi mencatat bahwa bayangan akan Digoel—yang berarti terpisah dari keluarga dan terasing di rimba—pernah membuat Soekarno meminta pengampunan saat ditahan di Sukamiskin pada 1933. Digoel telah berhasil menjadi teror mental yang membayangi setiap gerak-gerik aktivis pergerakan.

Fragmen Perlawanan di Tanah Tinggi

Meski dirancang untuk menghancurkan mental, Digoel tetap menjadi saksi bisu keteguhan prinsip para pejuang. Shiraishi membedah dinamika sosial di dalam kamp, di mana muncul pembelahan antara kelompok werkwilliger (yang mau bekerja untuk pemerintah demi upah dan harapan pulang) serta mereka yang tetap melawan. Untuk kelompok yang tetap membangkang, Belanda bahkan menyediakan “neraka di dalam neraka” bernama Tanah Tinggi, sebuah kamp yang lokasinya 55 km lebih jauh lagi ke hulu sungai dari Tanah Merah.

Menariknya, para tahanan di Tanah Tinggi sempat mencoba membangun administrasi mandiri atau pemerintahan sendiri sebagai bentuk boikot terhadap otoritas kolonial. Mereka merusak infrastruktur yang dibangun oleh tahanan yang bekerja sama dan tetap memelihara api ideologi meski berada di ujung dunia. Nama-nama besar seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mas Marco Kartodikromo, hingga Sayuti Melik pernah merasakan pengapnya udara Digoel. Namun, pemerintah kolonial kemudian menyimpulkan bahwa Digoel tidak cocok untuk intelektual berpendidikan universitas seperti Hatta dan Sjahrir, yang kemudian dipindahkan ke Banda Neira.

Paradoks Orde dan Ancaman

Melalui kacamata Shiraishi, Digoel adalah cermin dari rezim kolonial yang sedang terobsesi pada stabilitas. Penulis berargumen bahwa sebuah orde selalu membutuhkan “ancaman” untuk melegitimasi keberadaannya. Dengan menciptakan “hantu” komunis dan radikalis, pemerintah Hindia Belanda membenarkan perluasan aparat intelijen (PID) dan tindakan represif administratifnya.

Buku ini juga memberikan porsi besar pada sejarah PARI (Partai Republik Indonesia) yang didirikan Tan Malaka. PARI digambarkan sebagai organisasi bawah tanah yang paling membuat Belanda paranoid, hingga keanggotaan di dalamnya sering kali menjadi “tiket sekali jalan” menuju Digoel.

Catatan Kritis: Memori yang Terlupakan

Sebagai sebuah karya sejarah, Hantu Digoel berhasil menyatukan kepingan arsip kolonial dengan memoar para eks-internir (seperti Chalid Salim) menjadi narasi yang mengalir namun tetap tajam. Shiraishi tidak hanya menulis tentang tempat, tapi tentang psikologi kekuasaan.

Bagi pembaca hari ini, buku ini adalah pengingat penting. Digoel bukan sekadar titik di peta Papua, melainkan monumen atas harga mahal sebuah kemerdekaan. Di tengah rimba yang lembap dan penuh maut itu, gagasan tentang Indonesia justru sering kali tumbuh lebih kuat. Shiraishi berhasil menunjukkan bahwa meski Belanda bisa membuang raga para pejuang ke tempat paling terpencil, mereka gagal membunuh “hantu” kemerdekaan yang telah terlanjur lahir di kepala orang-orang Indonesia.

Resensi ini mengajak kita merenung: apakah kita masih mengingat pengorbanan mereka yang “dihantukan” di Digoel? Ataukah kita justru sedang menciptakan hantu-hantu baru dalam tatanan kekuasaan modern? Hantu Digoel adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibangun di meja diplomasi, tapi juga di sela-sela rawa mematikan Boven Digoel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *