Domba Kehilangan

Ada tanah yang tertutupi hamparan rumput yang hijau. Jika langit sedang senang, angin akan membuat rumput bergoyang lembut. Jika langit sedang tidak senang, angin akan membuat rumput hijau lelah.
Sekalipun begitu kau tidak boleh terkecoh, kadang langit berwarna biru bukan berarti langit sedang senang. Bisa saja langit biru sedang menyembunyikan perasaannya yang sedang membiru. Langit abu juga begitu. Terlihat sendu tapi mungkin saja langit abu sedang merasakan kedamaian.
Ah, kau harus belajar membaca langit untuk mengetahuinya.
Di tanah itu, tidak hanya rumput hijau yang hidup, ada Domba dan Penggembala. Entah bagaimana mereka bisa berada di tanah itu. Tidak ada yang tahu sejarah kedatangan mereka. Mereka biasanya akan bersantai di bawah pohon besar. Penggembala memainkan suling dan Domba mengunyah rumput hijau.
Tapi, hari ini sedikit berbeda. Penggembala tidak memainkan suling dan Domba tidak mengunyah rumput hijau. Mereka berdua hanya berbaring di atas rumput hijau sambil memandang langit.
“Penggembala, apa yang terjadi pada domba yang tidak memiliki seorang penggembala?” tanya Domba.
“Mereka akan kehilangan arah,” jawab Penggembala.
“Jadi, aku harus bersyukur memilikimu?” tanya Domba lagi.
“Tentu saja. Aku akan menunjukkan arah untukmu,” jawab Penggembala.
“Bagaimana jika arah yang kau tunjuk tidak aku inginkan?” tanya Domba.
“Di tengah perjalanan, kau akan mengerti alasan aku menunjukkan arah itu untukmu,” jawab Penggembala.
Domba seperti akan bertanya lagi, tapi Penggembala sudah menyela. “Hari ini, sudahi dulu rasa ingin tahumu. Kau harus kembali. Besok kita bertemu lagi di sini jika langit sedang senang. Ingat, jangan keluar dari arah yang aku tunjukkan.”
Domba berpikir, bukankah aku juga punya hak untuk memilih arahku sendiri?
Tapi, Domba tetap mengikuti arah yang ditunjuk Penggembala. Dia tiba di tempat tujuan dengan selamat. Dia tidak sabar menunggu esok hari untuk bertemu Penggembala.
***
Domba menunggu dengan gelisah. Penggembala belum datang, padahal langit sedang sangat senang hari ini. Domba menunggu sambil mengunyah rumput hijau. Entah sudah berapa lama dia menunggu, tapi Penggembala tidak kunjung datang. Domba melihat langit yang mulai berubah abu. Sepertinya langit sedang tidak menentu. Mungkin saja Penggembala sibuk, pikir Domba.
Domba lalu memutuskan untuk kembali. Di tengah jalan, dia mendapat ide untuk mencoba hal yang baru. Dia lalu melewati arah yang berbeda, bukan arah yang ditunjuk oleh Penggembala. Arah itu sangat indah. Jalannya mulus dan penuh bunga. Tidak seperti arah yang ditunjuk oleh Penggembala. Jalannya tidak mulus dan penuh dengan batu kerikil. Aku akan cepat sampai rumah jika melewati arah yang indah ini, pikir Domba.
***
Penggembala baru saja tiba di pohon besar, tempat dia berjanji akan bertemu dengan Domba. Penggembala membawa banyak makanan untuk Domba. Dia baru saja memasaknya tadi pagi. Penggembala lalu duduk dan menunggu Domba. Tapi, dia tidak kunjung melihat Domba. Tidak biasanya Domba terlambat. Penggembala lalu bertanya pada burung yang sedang bertengger di pohon besar. Dari burung, Penggembala akhirnya tahu jika Domba sudah pergi. Burung lalu mengantar Penggembala untuk menunjukkan ke mana Domba pergi. Mereka tiba di arah yang dilewati Domba. Ini bukan arah yang aku tunjuk untuknya, pikir Penggembala. Penggembala memanggil Domba, namun tidak ada sahutan. Penggembala lalu masuk ke arah yang dilewati oleh Domba.
Penggembala terus memanggil Domba, sedang Domba terbuai dengan keindahan arah itu. Panggilan Penggembala tidak dia hiraukan. Sejak itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Domba tidak pernah pulang ke rumah. Dia tidak menemukan jalan keluar dari arah itu. Penggembala tidak bisa menyelamatkan. Mereka berdua pada akhirnya saling kehilangan.
Editor: Muhammad Farhan Azizi





