Dekonstruksi: Kita Semua Hanya Copy Paste

Pernahkah Anda merasa hampa setelah menghabiskan dua jam menggulir-gulir layar di ponsel tanpa tujuan, melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, lalu bertanya: “Sebenarnya aku ini siapa?” Jika iya, selamat! Anda sedang mengalami gejala awal dari apa yang disebut Derrida sebagai kematian subjek.
Dalam semesta pemikiran Barat, “Aku” adalah raja. Tapi, dalam semesta digital—media sosial, “Aku” hanyalah remah-remah data. Jika Anda mati-matian membangun citra diri di media sosial, maka Anda sama dengan sedang menyiapkan batu nisan untuk kematian subjek “Aku” dalam diri Anda.
Menurut teori dekonstruksi Jacques Derrida manifestasi paling radikal dari kematian subjek itu adalah di dalam media sosial. Yang tersisa di sana hanyalah serpihan teks, jejak (trace), dan permainan tanda yang tak berujung. “Aku” yang ada di media sosial hanyalah sebuah efek bahasa yang tidak stabil dan rapuh.
Metaphysics of Presence
Derrida memulai kritik filsafatnya dengan menyerang apa yang ia sebut sebagai logosentrisme atau metafisika kehadiran. Tradisi Barat selalu mengagungkan “ucapan” (lisan) di atas “tulisan”. Ucapan dianggap murni karena menjamin kehadiran penuturnya; saat bicara, jiwa hadir di sana, hangat dan dekat. Sebaliknya, tulisan dianggap inferior, sekadar rekaman mati yang rentan disalahpahami karena penulisnya absen.
Media sosial melakukan tipu daya terbesar dengan membalik sekaligus menghancurkan biner ini. Platform seperti Instagram atau TikTok menjanjikan “kehadiran” yang intens. Merasa dekat dengan influencer favorit Anda, seolah-olah mereka “hadir” di samping Anda, menemani Anda makan malam. Anda merasa “menjadi diri sendiri” saat mengunggah vlog curahan hati sambil menangis. Namun, Derrida—dengan senyum sinisnya—akan menolak ilusi ini mentah-mentah.
Dalam media sosial, segala sesuatu adalah Teks (dalam arti luas Derridean: Archie-writing). Bahkan video siaran langsung sekalipun hanyalah kode biner yang direproduksi ulang. Tidak ada kehadiran fisik yang murni; air mata yang jatuh di layar HP Anda hanyalah kumpulan piksel, bukan air garam. Ketika Anda mengunggah foto diri, saat itu juga “Anda” yang asli telah hilang, digantikan oleh serangkaian data. Foto itu menjadi entitas mandiri yang terlepas dari tubuh biologis Anda. Subjek (Anda) absen, dan Teks (Foto) mengambil alih kekuasaan.
Ilusi kedekatan di media sosial hanyalah hantu; sebuah ketidakhadiran yang menyamar dengan memakai topeng kehadiran. Di sinilah kematian pertama: “Aku” menjadi objek tontonan yang terpisah dari kesadarannya sendiri.
Intertekstualitas: Kita Semua Hanya Copy-Paste
Jika Jean-Paul Sartre percaya pada kebebasan absolut individu untuk menciptakan makna. Derrida justru melihat bahwa individu terjebak dalam jaring intertekstualitas. Tidak ada teks (atau konten) yang berdiri sendiri; setiap teks adalah kutipan dari teks lain. Tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari, apalagi di bawah algoritma.
Di media sosial, konsep ini menemukan pembuktiannya yang paling brutal dan sedikit menggelikan. Perhatikan mekanisme trends atau challenges di TikTok. Ribuan orang melakukan gerakan tarian yang sama, menggunakan audio yang sama, meniru ekspresi wajah yang sama, bahkan menggunakan filter warna yang sama. Di manakah letak “Aku” yang unik di sini? Sama sekali tidak ada.
Ketika seorang remaja membuat konten “A Day in My Life”, ia tidak sedang mengekspresikan orisinalitasnya. Ia sedang “dikutip” oleh struktur budaya yang ada. Ia tanpa sadar mengulang naskah estetika yang sudah ditentukan oleh algoritma: cara menuang kopi yang estetik, sudut pengambilan gambar jendela yang melankolis, hingga pilihan lagu lo-fi yang generik. Dalam pandangan dekonstruksi, bukan Subjek yang berbicara melalui bahasa, melainkan Bahasa (Algoritma/Tren) yang berbicara melalui tubuh Subjek.
“Aku” menjadi apa yang disebut Derrida sebagai bricoleur—tukang yang menyusun kolase dari potongan-potongan sampah budaya yang sudah ada. Identitas di media sosial bukanlah penciptaan dari dalam ke luar (inside-out), melainkan tempelan stiker dari luar ke dalam (outside-in). “Aku” hanyalah titik temu dari ribuan algoritma, filter, dan tren yang melintas. Subjek “Aku” yang otonom telah mati, digantikan oleh “algoritma diri” yang terfragmentasi. “Aku” merasa menjadi sutradara, padahal cuma aktor figuran yang menuruti naskah mesin.
Differance: Teror Penundaan Makna
Salah satu konsep kunci Derrida adalah differance, sebuah permainan kata cerdas yang menggabungkan to differ (membedakan) dan to defer (menunda). Makna tidak pernah hadir secara penuh saat ini juga; makna selalu tertunda, bergantung pada jejak masa lalu dan konteks masa depan yang belum tiba.
Di media sosial, subjek mengalami differance yang akut dan sering kali horor. Saat “Aku” menulis sebuah cuitan atau status, “Aku” mungkin merasa memiliki otoritas penuh atas makna kalimat tersebut. “Ah, ini kan cuma bercanda,” pikir “Aku”. Namun, detik setelah tombol “Unggah” ditekan, otoritas itu lenyap seketika (ini yang disebut Roland Barthes sebagai The Death of the Author).
Status “Aku” kini menjadi “teks liar” yang berlari kencang tanpa tuan. Maknanya akan terus “bergeser” dan “tertunda” tergantung siapa yang membacanya, kapan dibacanya, dan dalam konteks apa. Sebuah lelucon dalam unggahan status hari ini (konteks A) bisa menjadi bukti kejahatan, alasan pemecatan, atau bahan cancel culture sepuluh tahun kemudian (konteks B). “Aku” yang mengunggah status tersebut tidak lagi memiliki kuasa untuk menetapkan: “Hei, bukan itu maksudku!”
Di ruang digital, subjek kehilangan kedaulatan atas narasinya sendiri. Identitas menjadi cair, licin, dan selalu dalam proses menjadi (becoming) yang tidak pernah tuntas. Anda tidak pernah benar-benar “ada” sebagai satu identitas yang utuh di media sosial; Anda tersebar dalam ribuan interpretasi orang asing yang tidak bisa Anda kendalikan.
Suplemen yang Berbahaya
Derrida juga mendekonstruksi hubungan antara “yang asli” dan “tambahan” (supplement). Biasanya, suplemen dianggap hanya sebagai pelengkap yang tidak penting. Vitamin adalah suplemen bagi makanan; tulisan adalah suplemen bagi ucapan. Logika umumnya adalah: yang asli lebih penting daripada suplemen.
Namun, Derrida menunjukkan “logika suplemen yang berbahaya”: suplemen sering kali diam-diam menggantikan dan menyingkirkan yang asli.
Dalam konteks media sosial, “profil digital” Anda seharusnya hanyalah suplemen (tambahan) bagi “kehidupan nyata” Anda. Namun, hierarki ini telah didekonstruksi dan dibalik secara total. Bagi manusia modern, profil digital sering kali menjadi lebih penting, lebih nyata, dan lebih “dirawat” daripada kehidupan biologisnya.
Anda melihat fenomena tragis sekaligus komikal di mana seseorang rela makan mi instan di kamar kos demi bisa mengambil gambar makanan mahal di kafe (lalu tidak dimakan), atau rela berutang demi terlihat kaya di beranda Instagram. Di sini, tanda (citra di medsos) telah membunuh referensi (realitas fisik). Profil digital bukan lagi sekadar representasi; ia telah menjadi simulacra (meminjam istilah Baudrillard) yang lebih nyata dari kenyataan.
Subjek biologis yang bernapas, berkeringat, punya pori-pori besar dan masalah hidup, perlahan-lahan menjadi “sampah” atau “residu” yang harus disembunyikan. Sementara itu, subjek digital yang terkurasi, terfilter, dan sempurna menjadi identitas utama. “Aku” yang sesungguhnya telah mati, dikorbankan di altar algoritma demi menghidupi “Aku” yang virtual. Tubuh “Aku” hanyalah tripod penyangga bagi jiwa digital “Aku”.
Hantu di Dalam Mesin
Melakukan dekonstruksi terhadap media sosial bukanlah upaya orang tua yang gagap teknologi untuk menolak kemajuan zaman. Ini adalah sebuah latihan kesadaran yang menyakitkan namun perlu. Analisis Derrida memaksa Anda untuk mengakui fakta pahit bahwa di era digital, romantisme tentang individu yang bebas, otonom, dan orisinil adalah sebuah dongeng usang sebelum tidur.
Media sosial adalah mesin dekonstruksi raksasa yang bekerja 24 jam sehari. Ia membongkar batas antara publik dan privat, antara asli dan palsu, serta antara kehadiran dan ketidakhadiran. Di dalam mesin ini, “Aku” tidak lagi menjadi pusat semesta seperti kata Descartes. “Aku” telah berubah menjadi titik-titik simpul dalam jaringan teks maha luas, ditulis oleh kode-kode yang tidak dimengerti, digerakkan oleh tren yang tidak diciptakan, dan dimaknai oleh audiens yang tidak dikenal.
Maka, kematian “Aku” di media sosial kematian kedaulatan. Sebagai entitas filosofis, “Aku” yang berdaulat telah menjadi fosil. Yang tersisa hanyalah trace—jejak-jejak digital yang bergema di ruang hampa server, menunggu untuk diberi makna oleh algoritma selanjutnya. Pertanyaannya sekarang, Anda yang memiliki akun media sosial, atau akun itulah yang sebenarnya memiliki Anda?









