Beragama di Zaman Modern, Mengapa Filsafat Tetap Dibutuhkan

Kepercayaan manusia, meminjam pendapat Amsal Bakhtiar, mengalami dinamika perkembangan. Mula-mula manusia menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak mampu mereka kendalikan, seperti kondisi cuaca, bencana, dan takdir mereka. Kondisi ini membuat manusia mulai sadar bahwa ada sesuatu yang maha agung—kekuatan tak tertandingi. Menyadari ini, manusia merasa perlu untuk menjaga hubungan dengan pemilik kekuatan agar dia tidak marah. Mereka khawatir jika yang agung ini marah, maka bencana akan datang.
Dalam kepercayaan kuno, manusia meyakini sesuatu yang mempunyai kekuatan patut untuk disembah—seperti hewan, gunung, pohon, atau benda-benda yang mereka lihat—dan diyakini mempunyai kekuatan magic/mana. Perilaku seperti ini disebut dinamisme. Biasanya jika kita lihat sekarang, penganut keyakinan dinamisme adalah mereka yang dari suku-suku pedalaman. Mereka meyakini sesuatu yang memiliki mana, seperti benda pusaka—benda dengan kekuatan super yang barang siapa mampu menguasainya, maka akan memiliki kedudukan tinggi.
Dalam kacamata sosiologi, agama mempunyai peran untuk melegalkan suatu tindakan, meskipun tindakan itu masih bersifat wacana. Kalau kata Emile Durkheim, agama merupakan sumber keteraturan sosial dan moral. Hal ini menandakan agama punya potensi untuk memutarbalikkan asumsi masyarakat, dari tindakan mulia menjadi kriminal, ataupun sebaliknya. Kalau Karl Marx agama itu candu, saya justru memandang bahwa tak sekadar candu, tetapi suatu bentuk reaksi manusia terhadap yang sakral. Sedangkan Nietzsche berkata (T)uhan telah mati, karena semakin berkembangnya kesadaran manusia terhadap rasionalitas maka manusia tidak perlu Tuhan.
Namun, sekali lagi, saya memandang bahwa manusia memerlukan agama untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Seperti penjelasan Siska Praditya, dkk, dalam penelitiannya yang berjudul “Peranan Religiositas Islam terhadap Kesejahteraan Psikologis: Sebuah Pendekatan Kajian Literatur Sistematis”, bahwa tingkat religiositas mampu memberikan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.1
Mengapa Filsafat Tetap Dibutuhkan
Seiring bertambahnya umur Islam dan semakin jauh jarak antara tempat berkembangnya Islam dengan tempat lahirnya, masalah yang muncul sering tidak ditemui di zaman Rasulullah. Setelah Rasulullah wafat pengambilan hukum diamanahkan kepada para pewarisnya. Pada konteks zaman sekarang, yang mengambil tanggung jawab ini adalah para ulama sebagai pewaris Nabi.
Para ulama tidak seperti Nabi yang bisa langsung mendapat wahyu dari Tuhan, yang bisa langsung menjadi hukum baru. Para ulama perlu berpikir dan memiliki pemahaman yang mendalam. Maka, di sinilah letak peran filsafat dibutuhkan.
Filsafat menjadi sangat penting untuk mendampingi agama. Berfilsafat bukan berarti hanya berpikir secara ugal-ugalan, karena berpikir tanpa cara yang baik akan menghasilkan cacat logika. Seperti pemikiran cacat logika bangsa Arab Jahiliah yang mengubur anak perempuannya.
Menurut Dr. Sabara Nuruddin akal itu layaknya mobil sport. Semua orang diberikan mobil sport, tetapi dalam pemakaiannya pasti ada perbedaan. Orang yang ahli—mereka yang tekun latihan, akan memiliki kepiawaian mengendarainya. Mereka yang kurang atau sama sekali tidak latihan, maka kemungkinan akan kesulitan mengendarainya, bahkan berpotensi menabrakannya berkali-kali.
Dalam pengambilan hukum Islam, salah satu metode yang digunakan adalah qiyas—cara pengambilan hukum dengan membandingkan hukum masalah lain yang masih bersesuaian. Metode ini memerlukan pola dan pemikiran yang mendalam, terstruktur, dan sampai ke akar-akarnya. Dengan cara ini kita sebenarnya disebut berfilsafat. Inilah salah satu fungsi filsafat dalam agama secara praktis.
Untuk menjelaskan dalil-dalil agama, keberadaan yang gaib, seperti malaikat, surga dan neraka bentuknya sangat abstrak. Sebagai manusia kita tidak mampu mengetahuinya secara pasti, kita hanya bisa meraba-raba, membayangkan sesuai persepsi masing-masing. Jadi sangat perlu penafsiran di dalamnya.
Berpikir secara filosofis bukan berarti juga harus membayangkan keberadaan malaikat atau surga dan neraka. Ibarat membayangkan sebuah kaki, dengan berpikir secara filosofis kaki tidak melulu terdiri dari masing-masing lima jari, boleh jadi kaki tidak punya jari—kaki kursi, misalnya.
Sebaliknya, ketika kita menjauh dari berpikir secara filosofis—membayangkan sebuah kaki mutlak dan persis sama seperti kaki biologis, di luar itu salah. Berpikir semacam ini sifatnya kaku, dan cenderung tersesat pada pandangan hitam dan putih, antara membayangkan dengan salah atau dengan benar.
Sementara filsafat menawarkan opsi yang lebih bervariasi dan lebih bijak. Misalnya kenapa kita tidak berpikir untuk memahami keberadaan malaikat atau surga dan neraka sebagai makhluk Tuhan, dan bagaimana konsekuensi kita dari keberadaan tiga hal tersebut. Jalan ini lebih bijak dan lebih rasional berdasarkan petunjuk yang diberikan al-Qur’an dan Hadis.
Begitulah salah satu jalan keluar yang diperlihatkan dengan berfilsafat. Filsafat mampu memberikan warna baru selain hitam dan putih, memberikan pilihan win-win situation dalam sebuah masalah, dan menjaga kita dari cacat logika.
Dalam kehidupan yang membutuhkan ketepatan dan kecepatan informasi, filsafat menjadi sangat berguna untuk mengarunginya. Ketika seseorang mulai memilah-milah informasi yang dapat dipercaya, tanpa sadar dirinya sedang berfilsafat. Kita memang tidak bisa langsung berpikir secara mendalam seperti para ulama dan akademisi, tetapi setidaknya kita mulai berfilsafat untuk mencegah diri tersesat dari cacat logika yang dibangun oleh hoax dan para buzzer.
Daftar Rujukan
- Praditya, Siska, dkk. The Role of Islamic Religiosity in Psychological Well-Being: A Systematic Literature Review Approach. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 9 (1). (Agustus 2025). https://jurnal.univrab.ac.id/index.php/psi/article/view/6158 ↩︎
Editor: Andi Surianto





