Aku dan Koran

Menulis di koran bagi saya bukan sekadar mengisi kolom yang kosong. Ia lebih menyerupai percakapan panjang antara saya dan kenyataan. Teringat tahun 2001, ketika tulisan pertama saya tersiar di sebuah koran daerah Malang Post, saya menjadikan koran sebagai media yang paling jujur; ide diuji, bahasa dipangkas, dan keberanian dipertaruhkan di hadapan pembaca.
Tema tulisan sederhana ini lahir dari kesadaran bahwa saya tidak pernah benar-benar menulis sendirian. Setiap membuka halaman opini, saya sering berdampingan dengan penulis lain. Ada yang tulisannya saya kagumi, ada yang membuat saya berpikir ulang, ada pula yang diam-diam memantik iri yang sehat. Dari mereka saya belajar menulis bukan hanya dari segi kepiawaian merangkai kata, tetapi soal sikap tanggung jawab pada dampak tulisan.
Minat menulis saya tumbuh pelan-pelan, jauh sebelum saya akrab dengan teori kepenulisan. Tahun 2001 menjadi titik mula yang penuh coba-coba mengirim tulisan, menunggu lama, ditolak, lalu mengirim lagi. Dari situlah disiplin terbentuk. Saya memegang satu prinsip yang hingga kini tak bisa ditawar: “tiada hari tanpa menulis.” Bukan tersebab setiap hari harus dimuat, melainkan karena setiap hari harus peka. Koran menuntut aktualitas, dan aktualitas menuntut kesiapsiagaan batin.
Sejak merantau di kota Malang awal tahun 2000-an, prinsip itu menjelma romantika sekaligus perjuangan. Menulis bukan sebatas urusan idealisme, tetapi juga bagaimana bertahan hidup. Honorarium dari pemuatan artikel menjadi penopang hari-hari, mulai dari membayar kos, membeli kopi, dan menyambung nafas hidup. Ada rasa khas saat menerima kabar tulisan dimuat—antara lega, senang, sekaligus harap—sebab, itu berarti satu artikel sedang berhasil memperpanjang hari esok.
Seiring perjalanan waktu, peran saya bertambah. Pada 2014 saya mengikrarkan diri menjadi akademisi di kampus, bergelut dengan jadwal mengajar, rapat, bimbingan mahasiswa, dan kewajiban administratif yang tak pernah benar-benar habis. Namun menulis di koran tidak pernah saya lepaskan. Ia justru menemukan ruangnya sendiri, yaitu malam-malam sunyi hingga pagi hari. Saat suasana berselimutkan sepi dan layar laptop menyala, di situlah artikel-artikel koran sering dilahirkan.
Malam menjadi waktu paling khusyuk untuk menulis. Setelah lelah mengajar dan berdiskusi, pikiran justru menemukan kejernihannya. Ide-ide yang sejak siang dipendam mulai keluar di layar laptop. Dengan ditemani secangkir kopi, saya menulis sambil menimbang isu aktual esok hari. Ada kepuasan tersendiri ketika menekan tombol “kirim” di ujung malam, seolah menitipkan kegelisahan kepada redaksi sebelum hari benar-benar berganti.
Proses kreatif saya hampir selalu berangkat dari kegelisahan kecil. Bisa dari berita singkat yang luput dibaca orang, obrolan ringan dengan kawan sejawat, baliho usang di sudut kota, atau kebijakan yang terasa janggal. Dari sana saya meramu sudut pandang, memilah kata, dan merangkainya dengan tulisan yang terkadang serius dan adakalanya santai. Koran mengajari saya tentang gaya bahasa yang harus ringkas, tetapi bernas. Tidak bertele-tele, sok pintar, dan tetap membumi.
Perjumpaan dengan para penulis koran lain, meski hanya lewat tulisan, membentuk mental saya. Ada kompetisi yang tak pernah diumumkan, tetapi selalu terasa. Ada rasa minder ketika membaca tulisan yang begitu tajam, ada pula kebahagiaan kecil saat gagasan saya turut menyumbang percakapan publik. Tulisan hari ini boleh jadi relevan, besok bisa basi. Maka saya tidak mengejar sensasi, melainkan konsistensi.
Konsistensi menulis di koran tentu tidak selalu mulus. Banyak tulisan kandas di meja redaksi. Terlebih tidak semua koran menyediakan honorarium. Kendati ada honorarium terkadang datang terlambat, terasa tak sebanding dengan tenaga dan waktu. Namun justru di situlah mental saya ditempa. Menulis menjadi laku hidup: kerja di jalan sunyi yang menuntut kesabaran, keuletan, dan keyakinan bahwa kata-kata masih punya nilai, baik secara ekonomi maupun moral.
Koran juga mengajari saya tentang tanggung jawab. Sekali tulisan terbit, ia bukan lagi milik pribadi. Ia dibaca, ditafsir, bahkan diperdebatkan. Itu sebabnya, saya berusaha menulis tanpa menggurui, mengkritik tanpa mencaci, dan reflektif tanpa kehilangan keberpihakan pada isu-isu sosial. Di titik ini, menulis bukan lagi sekadar proses kreatif, melainkan latihan bersikap etis.
Kini, setelah lebih dari dua dekade menulis di media cetak, saya menganggap menulis di koran adalah latihan panjang tentang kesetiaan. Setia pada kata, realitas hidup, dan kegelisahan yang terus berubah wajah. Di sela kesibukan akademik, di malam-malam sunyi, koran tetap menjadi rumah gagasan. Tempat saya bertahan hidup dan menjaga nurani dalam bingkai kata-kata.
Sebagaimana redaksi yang ketat, waktu tak pernah memberi saya ruang untuk diam hingga lanskap dunia pers pun berubah perlahan. Koran-koran cetak yang dahulu setia menemani pagi semakin sedikit yang bertahan. Banyak yang gugur, sebagian memilih beralih ke versi digital yang lebih cepat, lebih luas jangkauannya, tetapi sering kali kehilangan keheningan khas halaman kertas. Peralihan ini kemudian membuka ruang ekspresi kepenulisan yang lebih cair, tetapi sekaligus mereduksi honorarium tulisan yang dulu cukup untuk menyambung hidup sederhana bagi seorang penulis.
Kendati demikian, menjadi penulis koran dalam bentuk apa pun, tetap menyimpan nilai yang tak mudah diuangkan. Ia menjaga ketajaman berpikir, melatih nalar kritis dan sistematis, serta mempertahankan eksistensi diri. Nama dan foto penulis yang tercetak atau terpampang di halaman koran cetak bukan sekadar identitas, melainkan penanda bahwa pikiran kita pernah hadir, ikut berbincang dengan zaman dan menolak tenggelam dalam sunyi yang menyakitkan.
Editor: Muhammad Farhan Azizi





