Bencana Alam dan Filsafat Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa dunia berjalan dalam irama yang kita kenal: matahari terbit dengan cara yang sama, angin bertiup dengan pola yang hangat, laut bergerak dalam gelombang yang bisa kita tebak, dan bumi tampak seperti panggung yang kokoh untuk segala aktivitas manusia. Tetapi suatu hari, tanpa isyarat yang cukup jelas, panggung itu berguncang, bergeser, meledak, atau meluap. Tiba-tiba kita diingatkan bahwa kita hidup di atas sesuatu yang jauh lebih tua, lebih luas, dan lebih tidak dapat diprediksi daripada semua rencana kita.
Para filsuf sejak ribuan tahun lalu telah merenungkan hal ini, meski mereka tidak menyebutnya “bencana alam” seperti istilah modern yang kita gunakan sekarang. Mereka lebih menyebutnya sebagai “kekuatan dunia”, “gerak kosmos”, atau “ketidakteraturan yang menyimpan keteraturan”. Heraclitus mengatakan “dunia ini adalah api yang menyala dan padam dengan ukuran tertentu.” Kalimatnya puitis tetapi juga menakutkan: dunia bergerak menurut ritmenya sendiri dan manusia hanyalah saksi yang tidak selalu siap.
Merenungkan bencana alam dari perspektif filsafat bukanlah upaya mencari kesedihan baru, melainkan upaya memahami tempat kita dalam dunia yang luas. Inilah kisah panjang tentang bagaimana manusia mencoba memahami mengapa bumi terkadang berbicara dengan cara yang keras, dan bagaimana suara itu membentuk kesadaran kita.
Sejak awal sejarah, manusia sudah melihat bencana alam sebagai sesuatu yang sakral. Di Yunani Kuno, para pemikir awal seperti Thales dari Miletus mengatakan bahwa asal segala sesuatu adalah air, mungkin karena di mata manusia kuno, air adalah kekuatan yang menakjubkan: ia memberi kehidupan, tetapi banjir juga mampu menghapus desa demi desa. Bagi Thales, paradoks itu bukan sesuatu yang harus ditolak; ia adalah bagian dari hakikat dunia.
Kemudian datanglah Anaximander, murid Thales, yang mengatakan bahwa dunia berasal dari sesuatu yang tidak terbatas, yang ia sebut apeiron. Dalam ketakpastian inilah ia melihat bahwa gerak alam, termasuk bencana, berasal dari sesuatu yang tidak dapat dipahami sepenuhnya. Manusia, kata Anaximander, lahir dari kondisi alam yang terus berubah dan pada akhirnya akan kembali kepadanya. Pandangannya seperti bisikan lembut dari seorang tua yang berkata bahwa segala ketakutan kita akan perubahan, termasuk bencana, sebenarnya adalah bagian dari perjalanan pulang.
Ketika gempa bumi terjadi, ketika gunung meletus, ketika badai menghantam pantai, kita sering merasakan apa yang dirasakan oleh para pemikir kuno: bahwa ada kekuatan besar yang tidak kita mengerti sepenuhnya. Tetapi berbeda dari manusia kuno, manusia modern memiliki ilmu pengetahuan yang menjelaskan banyak hal. Namun anehnya, meski pengetahuan kita bertambah, perasaan takjub dan takut itu tetap sama.
Ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan Albert Einstein: “Hal yang paling indah yang bisa kita alami adalah misteri. Itulah sumber segala seni dan ilmu pengetahuan sejati.” Bencana alam, betapa pun menghancurkannya, menyimpan misteri yang membuat manusia berhenti sejenak dan bertanya-tanya tentang tempatnya di dunia.
Ketika tanah bergetar atau angin menghantam dari arah yang tidak diduga, kita merasakan sesuatu yang jarang kita rasakan dalam kehidupan modern: bahwa kita tidak sepenting itu. Manusia modern terbiasa hidup dalam ilusi kontrol. Kita membangun gedung tinggi dan berpikir kita telah menaklukkan udara. Kita mengalirkan listrik ke seluruh kota dan merasa kita telah menyalakan dunia. Kita memetakan lempeng tektonik, menghitung intensitas badai, dan memprediksi arah angin. Kita merasa seperti yang dikatakan Descartes, bahwa manusia adalah “penguasa dan pemilik alam”.
Namun satu bencana saja cukup untuk membantahnya. Filsuf Yunani, Epictetus, pernah berkata, “Bukan peristiwa yang membuat kita terganggu, tetapi penilaian kita tentang peristiwa itu.” Ketika bencana datang, kita terguncang bukan hanya oleh peristiwa fisiknya, tetapi oleh runtuhnya penilaian kita tentang dunia yang aman. Kita tiba-tiba menyadari betapa rapuhnya keyakinan bahwa kehidupan bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Di sinilah filsafat menyelinap ke dalam percakapan batin manusia. Ia bertanya dengan lembut, “Apakah kamu pernah benar-benar percaya bahwa hidup sepenuhnya dapat diprediksi?”
Kita mungkin ingin menjawab bahwa ya, kita memang mempercayainya. Tetapi bencana membuat jawaban itu terdengar naif.
Dalam sejarah pemikiran manusia, ada gagasan menarik dari Lao Tzu, tokoh utama Taoisme. Ia berkata bahwa manusia membuat banyak keributan dalam hidupnya karena ingin mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya, tetapi pada akhirnya harus memahami wu wei, yaitu seni untuk mengikuti aliran alam. Ia bukan ajaran untuk menyerah, melainkan ajakan untuk berhenti mengira bahwa manusia bisa memaksa alam mengikuti caranya.
Ketika sungai meluap, ia tidak sedang menentang manusia. Ia hanya mengikuti hukumnya. Ketika gunung api meletus, ia tidak sedang marah. Ia hanya menumpahkan tekanan yang telah ia tahan selama ratusan tahun. Kita yang menilai bahwa itu buruk, karena kita adalah makhluk yang bisa kehilangan rumah, keluarga, dan mimpi.
Tetapi apabila dilihat dari perspektif yang lebih luas, seperti yang dikatakan Spinoza, “Alam tidak bertindak berdasarkan tujuan. Ia hanya ada sebagaimana adanya.” Spinoza punya pandangan yang tenang tentang dunia. Baginya, alam tidak perlu alasan moral untuk melakukan sesuatu. Alam tidak berbuat baik atau buruk; ia hanya menjalankan hukum-hukum yang membuatnya tetap utuh.
Kita mungkin tidak selalu suka kebenaran itu, tetapi kebenaran itu membebaskan kita dari kebutuhan untuk menyalahkan sesuatu ketika bencana terjadi.
Ketika manusia kehilangan sesuatu dalam bencana, mereka bukan hanya kehilangan benda. Mereka kehilangan rasa stabilitas yang menjadi dasar hidup. Seperti diucapkan Nietzsche, “Kita memiliki seni agar kita tidak mati oleh kenyataan.” Tetapi mungkin, kita juga memiliki filsafat agar kita tidak hancur oleh kenyataan. Kita membutuhkan kebijaksanaan untuk memahami bahwa ketidakpastian bukanlah musuh, melainkan bagian dari kehidupan.
Di Jepang, tempat gempa bumi menjadi tamu yang sering datang tanpa undangan, masyarakat hidup dengan kesadaran bahwa bumi di bawah mereka tidak pernah benar-benar diam. Mereka membangun rumah yang lentur, membuat jalur evakuasi yang jelas, dan mengajarkan anak-anak sejak dini bagaimana berlari ke tempat aman.
Tetapi bukan hanya itu. Ada filsafat yang berkembang dari tradisi mereka bernama mono no aware, yaitu kesadaran mendalam tentang kefanaan, dan kesediaan untuk merasakan keindahan dalam sesuatu yang sementara. Dengan pandangan ini, mereka tidak melihat bencana sebagai permusuhan, meski tetap merasakan kesedihan. Mereka melihatnya sebagai bagian dari ritme kehancuran dan penciptaan, kehilangan dan pemulihan, yang membentuk kehidupan.
Pandangan ini dekat dengan pemikiran Buddha yang mengatakan bahwa “segala sesuatu yang muncul, akan lenyap.” Bukan sebagai kutukan, tetapi sebagai hukum alam yang, jika diterima dengan hati lapang, bisa mengajarkan manusia untuk tidak menggenggam segala sesuatu terlalu erat.
Namun filsafat tidak hanya mengajak kita menerima bencana. Ia juga mengajak kita memahami mengapa manusia begitu tersentuh ketika melihat orang lain menderita. Ada sesuatu dalam diri manusia yang tiba-tiba bangkit ketika melihat kota runtuh atau keluarga kehilangan rumah.
Jean-Jacques Rousseau berkata bahwa manusia pada dasarnya memiliki pitié, rasa iba alami yang muncul sebelum rasa moral dan hukum dipelajari. Ia percaya bahwa dalam keadaan alami, manusia terdorong untuk membantu sesamanya karena ia melihat dirinya sendiri dalam penderitaan orang lain.
Ketika bencana terjadi, kita melihat kebenaran kata-kata Rousseau itu. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal berbagi roti, berbagi pakaian, berbagi tempat tidur, berbagi tenaga untuk saling mengangkat reruntuhan. Tembok sosial runtuh bersama gedung-gedung. Yang tersisa hanyalah manusia yang sama-sama rapuh dan saling membutuhkan.
Dalam kehancuran, manusia menemukan dirinya kembali.
Pertanyaan besar yang selalu muncul setelah bencana adalah pertanyaan yang pernah ditanyakan Viktor Frankl, seorang filsuf dan psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi: “Bukan kehidupan yang mempertanyakan manusia, tetapi manusia yang harus menjawab apa yang dituntut oleh kehidupan.”
Ketika bencana menghancurkan rumah, menghentikan pekerjaan, atau merenggut seseorang, kehidupan tidak sedang menghukum. Ia sedang bertanya: Apa makna dari semua ini bagimu? Bagaimana kamu akan melanjutkan hidup?
Frankl percaya bahwa manusia bisa menemukan makna bahkan dalam situasi paling tragis sekalipun. Bukan makna yang datang dari langit seperti pesan rahasia, tetapi makna yang diciptakan manusia sendiri ketika ia memilih bagaimana menghadapi penderitaan.
Dari ribuan cerita setelah bencana — dari Aceh, Palu, Jepang, Haiti, Filipina — kita melihat kekuatan manusia untuk menciptakan makna baru dari kehancuran. Ada keluarga yang kehilangan rumah tetapi membangun rumah yang lebih kuat. Ada komunitas yang kehilangan desa tetapi membangun sistem peringatan dini untuk menyelamatkan generasi berikutnya. Ada orang yang kehilangan orang tercinta tetapi kemudian mengabdikan hidupnya untuk menjadi relawan dan penyelamat.
Bencana yang sama, tetapi maknanya berbeda untuk tiap manusia.
Dalam setiap tragedi, ada momen ketika seorang manusia berdiri di antara puing-puing, memandang langit, dan bertanya kepada dunia: Mengapa semua ini terjadi?
Tetapi mungkin, seperti yang dikatakan Rainer Maria Rilke, kita tidak perlu tergesa-gesa mencari jawaban. “Hiduplah pertanyaan-pertanyaan itu sekarang,” katanya. “Suatu hari, tanpa menyadarinya, kamu akan hidup ke dalam jawabannya.”
Bencana bukan hanya peristiwa yang menghancurkan; ia juga peristiwa yang mengungkapkan. Ia mengungkapkan siapa kita, apa yang kita hargai, apa yang kita yakini, dan seberapa besar kemampuan kita untuk bangkit.
Ketika debu mengendap dan kota mulai dibangun kembali, manusia menyadari bahwa dunia tidak kembali seperti semula. Mereka pun tidak lagi sama. Ada luka, tetapi juga keteguhan. Ada kehilangan, tetapi juga persahabatan baru. Ada kehancuran, tetapi juga ruang kosong di mana masa depan bisa dibangun dari awal.
Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, manusia dan bencana alam berjalan berdampingan. Kita tidak pernah bisa menyingkirkannya, karena mereka adalah bagian dari planet ini, sama seperti kita adalah bagian dari planet ini. Namun melalui bencana, manusia belajar kerendahan hati, keberanian, solidaritas, dan keindahan dalam kefanaan.
Bumi bukanlah musuh kita. Ia adalah rumah yang hidup. Dan seperti rumah yang hidup, ia memiliki detak, napas, dan caranya sendiri untuk menyeimbangkan diri.
Yang dapat kita lakukan bukanlah memusuhi bencana, tetapi memahami bahwa dalam guncangannya, ada pelajaran tentang betapa berharganya hidup. Seperti kata Marcus Aurelius, “Semesta ini berubah; hidup ini adalah opini kita tentangnya.” Dan di tengah semua perubahan itu, manusia selalu menemukan cara untuk melanjutkan langkah.
Bencana alam mungkin meruntuhkan kota, tetapi manusia selalu membangun kembali — bukan hanya bangunan, tetapi juga makna, harapan, dan masa depan. Dan di situlah, pada akhirnya, kebijaksanaan ditemukan.









