Melestarikan Budaya Daerah di Tengah Arus Globalisasi bagi Gen Z

Melestarikan Budaya Daerah di Tengah Arus Globalisasi bagi Gen Z

Generasi Z atau Gen Z lahir di tengah arus globalisasi yang sedang dan (mungkin) akan terus meningkat. Tren Generasi ini adalah setiap saat bermain media, hampir setiap hari mereka dihadapkan dengan layar gawai. Informasi seputar dunia sudah ada dalam genggamannya. Apalagi dituntut untuk bersaing dan mengimbangi diri mengenal budaya lokal.

Berbeda dengan zaman sekarang, dulu ketika saya ingin mengetahui tentang budaya harus membaca buku, pergi ke sanggar-sanggar, mendengarkan para budayawan dan menonton pertunjukkan seni. Sementara sekarang tinggal klik di pencairan semuanya muncul. Maka bukan sesuatu yang aneh, jika ada orangtua membiarkan anaknya yang masih dini bermain gawai.

Berbagai informasi lewat media sosial dari gawai itu, dari yang biasa maupun yang viral. Mulai dari kegiatan sehari-hari, gosip urusan rumah tangga, sosial, politik, agama dan lain-lain. Tinggal bagaimana Gen Z mampu memilah dan memilih informasi yang positif. Jangan sampai terjerumus kepada hal-hal yang kurang baik, mengakibatkan kurangnya semangat untuk belajar dan fokus terhadap cita-cita masa depan.

Pengalaman saya sebagai seorang tenaga pendidik siswa-siswi SMP dan MA yang ada di daerah saya. Tantangan dari mempertahankan budaya itu sangat bermacam-macam. Ketika saya mengajar seni budaya tidak bisa menyesuaikan kondisi generasi Gen Z pembelajaran terasa asing dan siswa-siswi pada mengantuk. Saya alihkan pembelajaran seni budaya itu dengan menonton, mempraktikkan, mengadakan festival budaya sekolah dan pameran karya. Siswa-siswi merasa senang sekaligus semangat dalam mengerjakan tugas.

Terlepas dari anggapan Gen Z yang masih memikirkan keuntungan belajar seni budaya itu untuk apa? belajar seni budaya diangap jadul serta kurangnya keberpihakan kepada pelaku seni. Anggapan seperti itu saya jadikan sebagai motivasi untuk terus memberikan inovasi-inovasi baru. Sesekali saya mengajak budayawan daerah yang ada di Purwakarta untuk mensosialisasikan, edukasi tentang iket Sunda, belajar membatik memakai alat yang sederhana dan menggerakkan pentingnya belajar literasi. Alhasil siswa-siswi merasa lebih antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Kemudian saya mengenalkan kesenian budaya dari masing-masing desa siswa-siswi yang ada di Purwakarta. Mulai dari makanan khas ada Srimping, Sate Maranggi, colenak, tape, kripik pisang dan lain-lain. Keseniannya ada pencak silat Pleredan, tari Topeng, bobodoran, maca sajak, ngedongeng dan lain-lain.

Setelah siswa-siswi diberikan wawasan budaya. Saya memberikan tantangan untuk menampilkan kembali seni budaya serta mengulas pesan kesan siswa-siswi dari belajar seni budaya. Sekaligus mengunggah dokumentasi kegiatan tersebut ke dalam media sosial. Agar semua orang bisa menyaksikan serta menikmati sajian kreativitas generasi Gen Z. Siswa-siswi juga turut membantu memberikan pengalaman belajar seni budaya terhadap anak-anak yang di bawah seusianya.

Dengan adanya penyesuaian dari pembelajaran mengenai seni budaya daerah Gen Z akan semakin tertarik dengan budaya. Karena siapa lagi kalau bukan para pendidik, penggerak, pengamat serta orang-orang yang terlibat dalam melestarikan budaya. Membangun ekosistem kebudayaan untuk terus tumbuh kembang di tengah arus globalisasi ini semoga tetap eksis, di kalangan para pemuda dan masyarakat awam. Tidak ada yang tidak mungkin ketika semuanya ikut terlibat dalam mengupayakan pelestarian budaya agar terus menyeimbangkan dari trend media sosial saat ini.

Editor: Andi Surianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *