Melamar Jadi Guru: Sulitnya Minta Ampun, Padahal Gajinya Sering Bercanda dan Tugasnya Seabrek
Kendati gajinya yang sering bercanda dengan pekerjaannya yang seabrek, prosedur yang dilalui orang-orang yang melamar sebagai guru itu ternyata begitu kompleks, banyak ribet juga pengorbanannya.

Seantero penduduk negeri sudah barang tentu tahu bahwa upah atau penghasilan seorang guru tidaklah besar, terlebih guru yang bukan berstatus ASN, entah itu PNS, PPPK penuh waktu, paruh waktu, atau apalah itu namanya.
Maka, ada anekdot yang menyatakan jika ingin menjadi orang kaya raya jangan sekali-kali memilih profesi sebagai guru, tetapi jadilah pengusaha. Pun jika tidak benar-benar niat yang datang dari palung hati terdalam, lebih baik tidak usah menjadi guru. Asli, hanya bikin mumet.
Dari berbagai kecanggihan teknologi saat ini, kita bisa dengan mudahnya tahu bahwa di sana, masih di negeri tercinta Indonesia, banyak guru yang beban mengajarnya luar biasa ditambah lagi dengan berbagai pekerjaan administrasi di luar mengajar, tetapi gajinya tidaklah seberapa. Memang benarlah mereka ini pahlawan tanpa tanda jasa.
Kendati gajinya yang sering bercanda dengan pekerjaannya yang seabrek, prosedur yang dilalui orang-orang yang melamar sebagai guru itu ternyata begitu kompleks, banyak ribet, juga pengorbanannya. Tidak melulu hanya dengan mengirimkan lamaran, interview, lalu diterima mengajar, nyatanya lebih dari itu.
Barangkali syarat dan ketentuan yang ditetapkan untuk merekrut guru tiap-tiap sekolah memang berbeda. Saya seorang lulusan sarjana keguruan dan ilmu pendidikan pernah beberapa kali melamar profesi sebagai guru dan saya akui prosesnya tidak ada yang mulus seperti jalan tol yang bebas dari hambatan.
Pertama-tama tentu saja mengirimkan lamaran yang disertai dengan berkas-berkas pendukung pada umumnya, seperti daftar riwayat hidup, ijazah terakhir, transkrip nilai, juga pasfoto. Banyak sekolah yang saat ini memudahkan untuk mengirimkan lamaran tersebut melalui surat elektronik alias e-mail dalam bentuk soft file. Lumayan tidak perlu repot-repot mencetak semua berkas tersebut dan mengemasnya menggunakan map.
Selepas mengirimkan lamaran tersebut, barulah ajang kompetisi dimulai. Saya melalui setidaknya ada enam tes di sekolah yang bersangkutan. Di antaranya ada tes tulis, tes mengajar (microteaching), tes komputer, tes membaca Al-Qur’an beserta hafalannya, tes wawancara, dan tes psikotes.
Tes tulis seputar kependidikan
Namanya saja tes tulis, tetapi pengerjaannya oleh sekolah dipermudah melalui aplikasi Google Form. Di sini, disajikan soal-soal pilihan ganda juga esai seputar pedagogik secara umum. Ketambahan juga materi seputar dasar-dasar ajaran Islam di dalam soal-soal tersebut karena sekolah yang saya tuju ini merupakan Sekolah Islam Terpadu tingkat dasar atau biasa disebut SDIT.
Terhitung gampang-gampang susahlah, pasalnya tidak ada kisi-kisi yang diberitahukan sebelumnya, juga pada soal pilihan ganda memuat jawaban yang baik-baik jadi rada bingung memilih yang benar-benar tepat itu yang bagaimana.
Sebenarnya jika menginginkan kemudahan lagi bisa saja mencari jawaban tersebut di browser, toh kita mengerjakan tes itu di laptop dan HP yang terkoneksi langsung ke internet. Pengawasan juga tidak begitu ketat seperti ujian anak sekolah, jadi peluang untuk berbuat kecurangan itu cukup besar.
Tapi ya coba pikir sendiri deh, tidak etis saja rasanya. Masa guru menyontek? Mending urungkan niat jika sempat kepikiran untuk berbuat curang seperti itu, berat nanti ke belakangnya. Tuangkan saja seada-adanya di tes tulis tersebut.
Tes mengajar langsung di hadapan anak murid
Poin paling pentingnya menurut saya ya di tes mengajar (microteaching) ini. Namanya mau menjadi guru ya semestinya bisa mengajar. Di bangku perkuliahan juga sudah tentu mendapatkan materi seputar mengajar, komplit dengan praktiknya secara langsung saat PPL.
Di sini kita tidak serta-merta datang ke hadapan murid menjelaskan pelajaran, terlebih dahulu harus menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang di dalamnya harus memuat kegiatan persiapan kelas, lalu kegiatan inti, dan terakhir penutup.
Kemudian juga mesti mempersiapkan media pembelajaran untuk mendukung materi yang akan disampaikan dan lebih bagus lagi jika ada model pembelajaran yang menarik dan membangun semangat murid untuk belajar.
Tes komputer supaya melek teknologi
Rasanya komputer di masa sekarang ini sudah menjadi kebutuhan primer guru. Tidak hanya sebagai media pembelajaran saja, melainkan untuk memenuhi administrasi lainnya seperti penyusunan RPP, pembuatan bahan ajar, sampai pengelolaan nilai rapor murid.
Maka dari itu, penting bagi guru nantinya paham cara-cara menggunakan komputer dan yang paling mendasar sekali penggunaan aplikasi Microsoft Office yang meliputi Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft PowerPoint, dan yang lainnya. Kemampuan inilah yang juga menjadi santapan sehari-hari guru di luar mengajar anak murid.
Tes membaca Al-Qur’an beserta hafalannya
Nah, di tes kali ini membaca Al-Qur’an beserta hafalannya agak-agak merinding. Sekolah yang saya tuju memang memiliki visi misi mencetak generasi islami yang hafal Al-Qur’an dan itu harus dimulai dari para pengajarnya.
Tidak peduli entah itu mau melamar sebagai guru kelas, guru matematika, guru olahraga, guru muatan lokal, atau guru tahfiz, semuanya bakal melalui tes yang satu ini.
Dan ternyata bisa membaca Al-Qur’an saja tidak cukup, di situ saya juga dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kaidah dan pengetahuan seputar bacaan tersebut. Lalu pada bagian hafalan, semakin banyak yang kita hafal maka itu semakin baik dan mendapatkan nilai plus tersendiri.
Mau mengajar anak SD loh ceritanya, tapi seberat ini pemirsa.
Tes wawancara yang mengulik banyak hal
Bagian tes wawancara merupakan bagian di mana kita cakap betul menjawab berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada kita.
Di antara pembahasan yang saya ingat saat sesi wawancara meliputi sedikit cerita tentang pengalaman kerja sebelumnya, sikap mengatasi orang tua murid yang kebanyakan kritik kepada sekolah, pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan di luar jam mengajar, juga sikap jika ada rekan yang suka berkelompok-kelompok.
Saya paham benar, jikapun nanti diterima, demikianlah tugas-tugas yang dibebankan kepada guru. Tidak menyangkal bahwa ada hari-hari di mana jam pulang guru tidak lagi tepat pada waktunya.
Untuk orang yang bicaranya irit seperti saya, bagian wawancara seperti ini menjadi tantangan tersendiri dan cukup menguras pikiran.
Tes psikotes
Seperti yang sama-sama kita ketahui, tes psikotes ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian, kecerdasan, dan kondisi kejiwaan seseorang. Dilakukannya tes psikotes ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana performa kerja kita nantinya.
Antara bermanfaat dan tidak sih tes ini, karena sudah tentu nantinya beban kerja guru itu bakal seabrek tidak peduli bagaimana posisinya sesuai atau tidak seperti hasil tes tadi. Alih-alih mengatakan tidak relevan, maka akan ada sanggahan nanti bisa belajar lagi atau lama-lama nanti juga bisa terbiasa.
Itulah keenam jenis tes yang pernah saya ikuti saat mengajukan lamaran sebagai Guru SD. Kompleks sekali bukan? Masih mending jika semua tes tersebut dijalani dalam satu hari, ini malah satu hari satu tes kemudian menunggu hasilnya sekitar dua mingguan. Sudahlah kepalang sibuk mondar-mandir untuk tes saja. Untuk gajinya sendiri sudah saya singgung di awal, ya segitulah namanya juga masih baru. Beberapa tahun lagi belum tahu, mungkin tetap segitu atau ya segitu-segitu saja.
Editor: Ihya Ulumuddin





