Jika Hidup Sebuah Pilihan, Kenapa Aku Memilih Hidup?

Jika hidup adalah panggung, maka aku adalah aktor yang lahir karena terlempar angin ke tengah pentas tanpa naskah. Sejak pertama kali membuka mata, aku telah dihadapkan pada pertanyaan tanpa kunci jawaban: mengapa aku ada, untuk apa aku berjalan, dan ke mana akhirnya aku akan kembali? 

Aku rasa hidup sering kali menyerupai labirin—di satu sisi tampak indah, di sisi lain bisa menyesatkan. Di persimpangan labirin kehidupan, aku berdiri dengan dada bergetar, memandangi arah jalan yang tak memberi jawaban selain bayanganku sendiri. Kesendirian di tengah persimpangan itu melahirkan pertanyaan yang tak pernah lekang, berulang seperti menunjukkan gema kesadaran: Jika hidup sebuah pilihan, kenapa aku memilih hidup?

Sebetulnya, Albert Camus, filsuf idolaku dalam Mitos Sisifus-nya, sudah memberitahuku soal absurditas itu: jurang antara dahaga manusia akan makna dan dunia yang tak memberi jawaban. Aku terus menuntut arti, sementara semesta diam seribu bahasa. Camus tidak menghibur dengan jawaban pasti; ia justru mengajakku menatap absurditas itu tanpa menunduk. Ia menolak bunuh diri sebagai jalan keluar, dan memilih pemberontakan—hidup dengan kesadaran penuh akan absurditas. Di situlah aku menemukan kisi-kisi bahwa memilih hidup adalah satu bentuk pemberontakan yang paling lantang.

Hidup sering terasa seperti batu Sisifus: sangat berat, dan tak kunjung sampai ke puncak. Aku mendorongnya dengan keringat, hanya untuk melihatnya bergulir jatuh kembali. Dari luar, itu tampak sia-sia. Tetapi, justru dalam momen batu itu bergulir kembali, ada kebebasan yang tak bisa dirampas. Aku memilih hidup karena di antara jatuh dan bangun, ada kebaruan yang lahir. Bukankah setiap kali batu jatuh, Sisifus menemukan langkah baru untuk kembali mendaki?

Jika hidup hanya sekadar menjawab “kenapa”, mungkin aku sudah menyerah. Tetapi hidup lebih dari sekadar soal ujian yang harus dijawab, diselesaikan, dan dikumpulkan; hidup adalah bagian-bagian yang tak sempurna, sebuah puisi yang tak pernah rampung terlebih terbit di sebuah majalah sastra. Aku memilih hidup bukan karena sudah memahami maknanya, melainkan karena setiap absurditas adalah panggilan untuk menciptakan makna ala diri sendiri. Hidup memberiku kanvas kosong yang kuasnya berupa luka, tangis, bahkan tawa yang getir.

Dalam hidup, penderitaan tak ubahnya musim hujan yang tunduk pada hukum alam. Airnya dingin, deras, dan kadang membawa banjir ke dalam hati. Namun, di balik hujan itu, rerumputan tumbuh, dan tanah yang kering menemukan kelembapannya kembali. Aku memilih hidup karena luka justru membentukku, mengukirku menjadi wadah yang lebih luas. Jika aku menyerah, aku hanya menjadi tanah kering yang merapuh. Tetapi dengan memilih hidup, aku memberi kesempatan bagi diriku untuk disirami, untuk tumbuh, meski perlahan.

Kerap kali, aku merasa berjalan di labirin. Jalan bercabang, dindingnya tinggi, dan langit di atasnya hanya sepotong kecil. Tak jarang aku tersesat, terjebak, bahkan terjerembap. Tetapi dalam setiap simpang yang kutemui, ada bisikan angin yang menuntunku. Labirin itu mungkin tak berujung, tetapi aku memilih untuk terus berjalan, sebab berjalan itu sendiri adalah bukti bahwa aku masih ada.

Jika aku ingat-ingat, Camus pernah menuliskan pernyataan yang paradoks di akhir novelnya itu, “Kita harus membayangkan Sisifus bahagia.” Namun, aku rasa di situlah keseruan hidup, riuh-rendahnya kebahagiaan bukan sebab beban yang hilang, tapi sebab keberanian untuk menerima beban itu.

Aku memilih hidup karena di balik absurditas, ada kebahagiaan kecil yang bisa dicuri. Seperti melihat tumpukan sampah di bawah papan bertuliskan “jagalah kebersihan”, atau sekadar mencium bau dan mendengar bunyi kentut yang membuktikan aku masih hidup—semuanya adalah alasan-alasan sederhana yang, meski remeh, tetap indah.

Hidup memang tidak menjanjikan jawaban, tapi memberikanku kesempatan untuk terus bertanya. Dan, bukankah bertanya itu sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk tetap hidup?

Aku memilih hidup karena setiap pertanyaan yang lahir dariku adalah bukti aku menolak diam. Dalam absurditas, diam adalah kematian, tetapi bertanya adalah kehidupan.

Maka aku terus bertanya: mengapa aku jatuh, mengapa aku bangkit, mengapa aku tertawa, mengapa aku menangis. Semua itu mungkin tak pernah bertemu jawaban, tetapi perjalanan mencarinya adalah makna itu sendiri.

Ada saat-saat ketika aku ingin menyerah, ketika tubuhku serupa kapal karam yang tak lagi mampu berlayar. Namun, laut tidak pernah menolak kapal yang patah; ia tetap menggoyangnya, tetap membawanya entah ke mana. Begitu pula hidup: meski aku retak, hidup tetap mengalir dalam nadiku. Aku memilih hidup karena bahkan dalam kehancuran, ada kemungkinan baru yang menunggu.

Aku tahu, memilih hidup berarti memilih luka, memilih kehilangan, memilih kecewa. Tetapi di saat yang sama, memilih hidup juga berarti memilih harapan, memilih kemungkinan, memilih kesempatan untuk mencipta makna. Hidup adalah pedang bermata dua, dan aku tak bisa memegangnya tanpa terluka. Maka luka itu adalah bukti bahwa aku masih menggenggamnya.

Jika hidup adalah panggung, maka aku hanyalah aktor yang kadang lupa naskah. Namun, justru di kelupaan itulah improvisasi lahir. Aku memilih hidup karena panggung ini memberiku kesempatan untuk menari, meski langkahku tersandung; untuk bernyanyi, meski suaraku sumbang. Hidup tidak membutuhkan kesempurnaan, ia hanya membutuhkan keberanian untuk tampil.

Pada akhirnya, aku memilih hidup bukan karena ia mudah, bukan pula karena ia pasti. Aku memilih hidup karena ia absurd—dan di dalam absurditas itu, aku menemukan kebebasan. Kebebasan untuk tersenyum di tengah derita, untuk mencipta makna di tengah kekosongan, untuk menolak menyerah meski batu terus menggelinding.

Seperti Sisifus yang terus mendaki dengan senyum samar, aku pun memilih hidup dengan keyakinan sederhana: bahwa keberadaanku sendiri adalah jawaban. Jika hidup sebuah pilihan, maka aku memilih hidup—bukan karena aku tahu ke mana batu ini akan berakhir, melainkan karena setiap dorongan adalah bukti bahwa aku masih manusia.

Editor: Farhan Azizi

2 Comments

  1. Relate buat seseorang yang bingung memilih arah hidup agar bisa lebih sadar ke diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *