Menikah itu Belajar soal Resep, Hobi, dan Bakti pada Orang Tua

Menikah itu Belajar

Memasuki tahun ketiga usia pernikahan, saya tidak lupa memberikan apresiasi kepada diri sendiri juga suami atas segala upaya membangun rumah tangga impian yang benar-benar dimulai dari nol. Sampai saat ini, kami berdua masih terus menyelami proses saling mengenal yang tidak ada habisnya dan mengupayakan rasa nyaman satu sama lain.

Kata kebanyakan orang, usia pernikahan yang masih seumur jagung ini belum ada apa-apanya. Belum banyak ujiannya, belum merasakan pahit getirnya kehidupan rumah tangga, dan “belum-belum” yang lainnya. Selain itu, memang tidak banyak pencapaian material yang terlihat dan mampu kami banggakan kepada banyak orang.

Jika melihat dari sudut pandang saya sendiri, siapa pun orangnya pasti mengalami ujian masing-masing, entah itu mereka yang belum menikah, baru menikah, atau sudah lama menikah. Kadarnya saja mungkin yang berbeda. Katakanlah usia pernikahan kami memang masih terlalu dini, tetapi bagi saya ini sudah cukup sebagai bahan refleksi kecil-kecilan. Terutama saat masa awal pernikahan; meski sebelumnya sudah saling mengenal, saya maupun suami tetap mengalami culture shock karena baru sama-sama tahu kebiasaan masing-masing.

Bersahabat dengan Rutinitas Memasak

Perubahan ini sangat terasa bagi saya sendiri sebagai seorang istri. Saya merupakan anak tunggal di keluarga yang jarang sekali memiliki kesibukan di dapur. Saat kuliah lalu bekerja, saya tinggal jauh dari orang tua sehingga lebih sering membeli makanan ketimbang memasak sendiri.

Jangan tanya kemampuan memasak saya, benar-benar sangat jauh di bawah rata-rata. Namun, menurut suami, memasak adalah kemampuan yang bisa dipelajari pelan-pelan, bukan sebuah bakat yang melekat pada seseorang sejak lahir. Di zaman sekarang, segalanya terasa mudah; tinggal lihat resep di internet, media sosial, bahkan platform seperti YouTube.

Jadilah sekarang saya selalu memasakkan makanan untuk keluarga—suami dan anak—setiap pagi dan malam hari, meski sesekali kami juga membeli makanan atau makan di luar rumah. Kesibukan yang sebelumnya sangat jarang saya lakukan ini sekarang justru menjadi kebiasaan rutin. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan bentuk kekurangan diri, namun fakta bahwa suami mau menerima dan menemani saya berbenah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Suami dengan Hobi yang “Bukan Saya Sekali”

Lain halnya dengan suami yang mempunyai hobi bermain voli dan gim daring (game online). Dulu, saya kerap merasa diabaikan dan bersaing dengan hobinya tersebut. Namun, lambat laun saya berusaha memahami bahwa ia pun membutuhkan hiburan untuk menyegarkan kembali pikiran setelah penat bekerja.

Terlepas dari hobinya yang “bukan saya sekali” itu, suami ternyata tak segan membantu banyak pekerjaan di rumah seperti mencuci piring, mencuci pakaian, dan menyapu rumah. Hal-hal kecil semacam ini sungguh sangat menyenangkan bagi kaum perempuan. Alhasil, terbentuklah pola pikir di kepala saya: selagi ia masih rajin bekerja dengan setoran bulanan yang lancar dan ibadah wajib tidak tertinggal, perasaan-perasaan yang tidak perlu itu akan saya minimalisasi.

Tidak logis rasanya mengharapkan sosok suami sesuai kehendak kita seutuhnya. Begitu pun sebaliknya, barangkali ada sisi-sisi pada diri saya yang tidak diinginkan suami, namun ia memaklumi tanpa harus diutarakan.

Tiba-tiba Berdebat, Lalu Saling Introspeksi

Pernah suatu ketika terjadi perdebatan kecil seusai makan bersama. Suami tiba-tiba menegur saya dengan suara meninggi lantaran saya mencuci tangan di bekas piring makan saya. Ternyata ia tidak suka melihat hal tersebut dan mengaku jijik. Saya pun terkejut bukan main. Saya merasa tidak melakukan kesalahan, apalagi nantinya yang mengemasi piring-piring kotor lalu mencucinya adalah saya sendiri.

Tentu saja saya tidak terima dibentak seperti itu atas perbuatan yang menurut saya tidak ada salahnya. Lantas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada suami, saya jelaskan bahwa saya belum ada sebulan tinggal satu atap dengannya. Mana saya tahu secara menyeluruh hal-hal yang disukai maupun tidak disukai olehnya?

Sekalipun hal yang saya lakukan pertama kali di hadapannya itu salah, haruskah ia menghardik saya begitu keras? Tidak bisakah ia memberi tahu dengan cara baik-baik? Toh, saya bukan tipe orang yang bebal untuk dinasihati. Suami pun terdiam, seolah menyadari perbuatannya juga tidak bisa dibenarkan. Selanjutnya, saya pun tidak pernah lagi melakukan hal semacam itu, baik saat makan bersama suami maupun saat makan sendirian.

Ada lagi sebuah kebiasaan sebelum menikah yang tetap saya lakukan. Setiap bulan, saya menyisihkan sedikit gaji untuk diberikan kepada orang tua, mengingat mereka semakin tua dan tenaga untuk bekerja tidak sekuat dulu lagi. Intinya, ini adalah bentuk bakti anak yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan mereka.

Setelah menikah dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi, suami ternyata bersedia dan tidak keberatan menyisihkan gajinya setiap bulan untuk dikirimkan ke orang tua saya. Tidak banyak, namun cukuplah untuk membantu sedikit kebutuhan hidup sehari-hari keduanya. Tentu saja hal itu dilakukan setelah kebutuhan kami berdua tercukupi.

Untuk kedua orang tuanya sendiri pun, suami sering memberikan sebagian dari penghasilannya. Selain itu, ia juga membantu biaya kuliah adik perempuannya. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut selama dikomunikasikan dengan baik. Meskipun yang bekerja dan berpenghasilan murni hanya suami, sebagai istri saya merasa perlu tahu ke mana saja dana tersebut dialokasikan. Untungnya kami sepaham terkait persoalan keuangan ini.

Alhamdulillah, penghasilan dari pekerjaan suami cukup untuk memenuhi itu semua, termasuk untuk tabungan dan dana darurat. Sebagai istri, tak hentinya saya mendoakan supaya rezeki suami dan rezeki keluarga kami selalu lancar serta mengalir deras.

Poin penting yang sama-sama kami tanamkan sejak awal menikah adalah: jika ada yang tidak sesuai, sebaiknya segera dikomunikasikan. Kami juga berjanji untuk tidak bosan terus belajar menjadi suami dan istri yang lebih baik lagi. Tidak lupa, kami saling mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan pasangan karena dengan begitu, baik suami maupun istri akan merasa dihargai.

Beberapa hal di atas merupakan sebagian kecil dari rupa-rupa kehidupan awal pernikahan kami. Mohon doanya supaya kami mampu menjaga biduk rumah tangga ini dengan baik.

Editor: Farhan Azizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *