Alasan Aktivis Perlu Masuk Mal, dan Perbuatan itu Tidak Akan Membuatnya Murtad

Aktivis, sepanjang yang saya tahu, kerap dicap sebagai kelompok antikapitalis. Ibarat minyak dan air, aktivis dan kapitalis itu bisa bertemu tapi tak pernah bisa bersatu.
Sekalipun demikian, tak bisa dielakkan bahwa pada kondisi tertentu aktivis pasti memerlukan produk kapitalis. Misalnya, untuk sesuatu yang saya sebut “urusan super penting” dalam tulisan ini dan pada situasi ini mau tidak mau seorang aktivis harus menggunakan produk kapitalis.
Nah, salah satu monumen kapitalis yang jelas-jelas ada di depan mata adalah mal. Namun, apakah jika seorang aktivis masuk mal kemudian membeli produk di mal itu identitasnya perlu dipertanyakan? Apakah pada saat itu juga dia sudah menjadi aktivis yang murtad?
Jawabannya, belum tentu. Sebab dalam “urusan super penting” yang saya maksud, mal justru bisa membantu mereka. Untuk urusan tersebut, hal ini masih bisa diperdebatkan. Mal boleh jadi bukan simbol kapitalisme yang melulu mesti ditentang para aktivis.
Mal dan Toko-Toko di Dalamnya
Pada prinsipnya mal itu tempat belanja satu atap, memudahkan konsumen memilih barang, menawarkan nilai dan fasilitas lebih, kenyamanan, keamanan, dan persaingan harga. Di dalam mal ada berbagai toko yang sebenarnya juga bukan bagian dari mal itu sendiri.
Toko-toko di dalam mal sebetulnya juga menyewa tempat buat lapak, stan, atau bentuk lain untuk mereka menawarkan produk masing-masing. Mereka tidak melakukan pembebasan, atau mengambil alih lahan masyarakat untuk mendirikan toko. Pelaku yang melakukan itu adalah pemilik mal. Jadi, pemilik toko itu bukan kapitalis, mereka tidak punya kepemilikan tanah, mereka hanya menyewa sebidang lahan untuk kebutuhan mereka.
Urusan uang sewa yang pada akhirnya harus diserahkan kepada pemilik mal akan jadi pembahasan yang sangat rumit. Musababnya, lahan-lahan yang tersedia di luar mal boleh jadi lebih mengerikan harganya, sehingga bisa saja menyebabkan hitung-hitungan harga produk mereka jadi lebih rumit pula. Sementara di mal, mereka cukup menyewa lapak, bukan tanah atau ruko.
Dari gambaran itu, saya haqqul yaqin khusus untuk “urusan super penting” ini jika para aktivis masuk mal pada prinsipnya tidak akan membuat mereka murtad dari aktivis. Mereka tetap tidak menikmati produk kapitalis, tetapi hanya menjadikan produk kapitalis itu sebagai sarana untuk memenuhi urusan tertentu.
Mojokerto-Surabaya
Penjelasan tentang mal dan toko-toko itu bukanlah alasan mengapa aktivis wajib masuk mal. Ada sebuah pengalaman pahit dan memalukan yang melatari mengapa tulisan ini lahir, yakni ketika saya mengantar Tretan, salah seorang teman saya di Mojokerto yang saat itu sangat membutuhkan “urusan super penting” yang saya maksud, ke Surabaya.
Mojokerto dan Surabaya adalah dua kabupaten yang sebenarnya boleh dikatakan dekat. Jika saya ukur lewat aplikasi Google Maps jaraknya berkisar 50 km. Hanya perlu satu kali pengisian penuh bahan bakar minyak—paling tidak untuk ukuran tangki motor matik—sudah cukup untuk pulang-pergi.
Berhubung misi menyelesaikan “urusan super penting” itu kami jalankan saat akhir tahun, dari kediaman Mojokerto menuju Surabaya, maka hujan yang tak kenal kasihan menjadi tantangan bagi kami.
Sesuai perkiraan, Kamis, 11 Desember tahun lalu, sekitar pukul 16.00 WIB seharusnya matahari sedang bercokol di balik pemandangan gunung dan langit. Tapi, karena akhir tahun, matahari sama sekali tak kelihatan mata telanjang. Ia bersembunyi di balik awan gelap yang seolah memberi kabar, hujan akan turun sebentar lagi.
Alhasil, biur, dar, der, dor—hujan, petir, kilat, dan badai datang tak diundang. Belum ada seperempat perjalanan menuju tujuan, motor dan badan kami yang sama-sama ringkihnya tak kuat lagi menahan air hujan yang macam tembok itu. Air yang turun dari langit itu seolah menutupi arah kami menuju tujuan, sehingga perjalanan terhenti, dan ujungnya balik badan.
Toko Ritel Pinggir Jalan di Hari Esok
Keesokan hari, sesudah salat Jumat, perjalanan baru untuk menyelesaikan misi dimulai kembali. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Tak setetes pun air turun di jalanan. Matahari terasa dekat. Dahaga pun jadi sahabat.
Teguh pada prinsip awal, Surabaya adalah tujuan, misi harus diselesaikan. Pada akhirnya, saya dan Tretan tiba di sebuah toko ritel di pinggir jalan raya, yang lokasinya dekat dengan kampus ternama di Surabaya.
Baru saja tiba lokasi, saya melihat dua orang anak muda (dugaan saya mereka adalah mahasiswa dari kampus ternama yang ada di dekat situ) keluar dari toko. Firasat buruk mendadak muncul, jangan-jangan lokasinya yang dekat kampus bakal membuat harganya naik.
Alih-alih membuktikan firasat, saya dan Tretan pun masuk toko. Seperti biasa, kami langsung mendapatkan beberapa pertanyaan dari pelayan, “Untuk urusan apa, Mas?” “Kebutuhannya apa, Mas?” Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya kontraproduktif—antara penting dan tidak penting, pertanyaan yang kalau kami jawab tidak akan membuat kami memilih produk mereka. Salah satu pertanyaan tersebut: “Dari mana, Mas?” Pertanyaan ini jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan misi kami.
Nah, kembali kepada pertanyaan “Untuk urusan apa, Mas?”, singkat, padat, jelas, beberapa kata yang keluar dari lisan saya, “Untuk urusan penting.” Urusan yang lebih penting dari mengenakan bantal saat tidur, sandal untuk berjalan, atau handuk setelah mandi.
Tanpa bantal orang tetap bisa tidur. Tanpa sandal semua orang tetap bisa berjalan selama punya kaki. Tanpa handuk setelah siraman terakhir dalam ritual mandi tubuh kita bisa kering sendirinya setelah beberapa menit.
Dan kepentingan semua urusan itu jauh berada di bawah “urusan super penting” yang saya maksud dalam tulisan ini, yang sampai-sampai menjadi alasan para aktivis untuk masuk mal, yakni membeli “perangkat tempur tugas akhir” alias laptop.
Ya, laptop yang diperlukan untuk menyelesaikan urusan paling penting seorang mahasiswa, urusan kecewa atau bahagianya orang tua—tugas akhir.
Lalu, saya menimpali jawaban, “Ini, Mas, tipe xxx.” Tujuannya untuk menunjukkan kami sudah punya referensi pilihan.
“Ada, untuk stok ini kami sedia kapasitas penyimpanan xxx dan yyy,” balas si pelayan.
Setelah beberapa saat mengokang senjata, angguk-angguk kepala, pertanyaan pamungkas harus saya lesatkan, “Berapa harganya?”
“O, untuk kapasitas penyimpanan xxx sekian. Dan, kapasitas yyy sekian,” jawab pelayan.
Pada detik itu kegiatan bisik-bisik tiba. Diam-diam saya membuka brosur daftar harga di lokapasar toko oren. Perbedaan harga barang yang ada di toko ritel dengan lokapasar oren itu sangat jauh. Bukan seratus atau dua ratus, melainkan sejuta.
Saya dan Tretan pada akhirnya keluar dengan tangan kosong. Tersebab mana mungkin saya menawar harga laptop tipe zzz itu jadi lebih rendah, tapi layarnya hanya separuh, tidak perlu huruf “k” dan “e” di keyboard, atau tawaran-tawaran lain yang tidak masuk akal. Itu kan mustahil. Alhasil misi tidak selesai waktu itu.
Petualangan pun kami mulai kembali. Teguh pada prinsip, tujuannya adalah menyelesaikan misi. Opsi toko kedua sudah kami kantongi. Perlu waktu sekitar 9 menit menuju lokasi. Namun, daya gawai sudah berkurang. Untuk itu, kami mulai melakukan hal yang sedikit berisiko, yaitu “mengira-ngira” lokasi tujuan kami sebelum kami berangkat, karena jika harus minta bantuan petunjuk arah dengan gawai, sama halnya bunuh diri, gawai kami berdua pasti tewas.
Tidak disangka-sangka, kami sampai tujuan. Nama toko yang ada di aplikasi terlihat jelas di depan mata. Di tempat ini, pertimbangan terasa lebih berat. Harga yang ditawarkan sedikit lebih murah, ada iming-iming diskon beserta bonus promo akhir tahun.
Masih seperti toko pertama. Kami menerima pertanyaan yang sama, dan kami pun menjawab secara lugas dengan jawaban yang sama: “Untuk ‘urusan penting’.”
Namun, kata “diskon” dan “promo akhir tahun” membuat prinsip menyelesaikan misi ini sedikit tergoyahkan. Walaupun sebetulnya harga antara lokapasar toko oren dengan toko ini selisihnya masih relatif jauh. Jika toko pertama selisih satu juta, di toko ini tujuh ratus ribu.
Keajaiban Masjid dan Keputusan Akhir Masuk Mal
Harapan mulai pupus. Tak ada lagi petualangan selanjutnya. Daya gawai saya maupun Tretan sudah tidak memadai untuk minta bantuan petunjuk arah alamat toko selain dua toko tadi. Balik kanan bubar nyaris saja dilaksanakan.
Dan anehnya, kami justru tidak mencari tempat yang pasti menyediakan stopkontak. Kami memutuskan menyusuri jalan tanpa arah, hanya bermodalkan keyakinan bahwa tanah Surabaya sama saja seperti tanah-tanah lainnya.
Sebuah portal perumahan meneguhkan keyakinan Tretan bahwa di situ pasti ada jalan. “Sudah, kita masuk sini saja, percaya sama saya.”
Di tengah penyusuran tanah yang tidak tentu arah membawa percakapan yang juga tidak terarah.
Tiba-tiba datang pertanyaan absurd.
“Di mana rumah Ahmad Dhani?” tanya Tretan.
“Kenapa nanya rumah Ahmad Dhani?” tanggap saya.
“Kalau kita nanti pulang nggak jadi beli laptop, kan masih bisa alasan kalau ditanya, ‘ngapain ke Surabaya?’ habis dari rumah Ahmad Dhani. Biar kedengaran keren,” kelakar Tretan.
“Ckckck,” cekikikan saya menanggapi kelakarnya.
Entah apa yang terjadi, penyusuran tanah Surabaya yang kami yakini sama dengan tanah-tanah lainnya membawa kami bertemu dengan masjid di dalam perumahan itu. Dengan nada antara yakin dan tidak yakin, Tretan pun berkata, “Nah, apa kata saya. Kita belum salat Asar juga, kan. Singgah dulu kita, biasanya di sini pasti ada stopkontak.”
“Nah, iya, ada. Bener juga!” sahut saya, sedikit kaget.
Kami pun duduk istirahat sejenak. Lalu salat satu per satu sembari menunggu daya gawai terisi penuh.
Setelah semuanya selesai, kami bermusyawarah kecil-kecilan.
“Kalau perbedaan harga di sini dengan lokapasar oren itu memang jauh banget, kita balik saja, gimana?” tanya saya pada Tretan.
“Kok, saya kepikiran di toko kedua tadi itu, ya, ada diskon dan promo, paling nggak jaraknya nggak jauh banget,” keluhnya sambil sedikit gelisah.
“Beli di lokapasar oren itu saja!” kata saya meyakinkan.
Tapi, ia tampak gelisah, bimbang, dan khawatir.
“Apakah tidak risiko kalau kita beli online?” tanya Tretan ragu.
Karena melihat kegelisahan, kebimbangan, dan kekhawatirannya, saya coba mencari lokasi toko resmi merek laptop yang kami cari untuk wilayah kota Surabaya di situs web resmi mereka. Alhasil, saya menemukan satu titik yang dekat dengan lokasi kami saat itu.
“Kalau gitu, apa mau kita coba pergi ke toko resminya saja? Kebetulan ini saya ketemu di web resmi mereka,” kata saya meyakinkan Tretan, sebelum keputusan akhir sampai pada kata pulang.
“Kalau yakin, kita gas saja,” katanya pasrah.
“Cuman, ini lokasinya di mal. Apa harganya tidak malah melambung tinggi?” tambah saya.
“Ah, sudah, tak apa, intinya yakin saja. Ini terakhir, kalau masih belum cocok, kita pulang saja,” jawabnya yakin.
Dari situ, kepercayaan diri mulai tumbuh perlahan. Dengan daya gawai yang sudah terisi penuh, kewajiban yang juga sudah terlaksana, kami akhirnya melanjutkan misi yang belum terselesaikan ini.
Ternyata, perjalanan menuju lokasi memang tak jauh. Awalnya kami tak melihat ada gedung tinggi yang identik seperti mal. Setelah sedikit sempat salah jalan, akhirnya kami menemukan pintu masuk parkirannya.
Saat hendak masuk kami harus melewati portal di dekat pos keamanan. Tapi, tak seperti biasanya tombol di mesin yang menempel portal itu tak kelihatan, kami hanya melihat tulisan “Tempelkan kartu e-money Anda di sini”.
Di situ kami kebingungan. Kami tidak punya kartu e-money. Di belakang kami ada satu orang yang antre. Petugas parkir mulai curiga. Kami akhirnya dibentak oleh petugas, “Mau apa, Mas!?”
Sebetulnya kami sudah tahu, ini pintu masuk mal yang kami tuju. Tapi, Tretan—tentu dengan kondisi panik—mendekati petugas itu, lalu pura-pura bertanya, “Ini benar Mal Maskoin, Pak?”
Dengan wajah yang tetap tampak curiga, petugas itu menjawab pertanyaan kami dengan pertanyaan balik yang sinis, “Iya benar. Kalian ke sini mau apa?”
“Anu, Pak. Ini masuknya gimana?”
Saya—tentu juga dengan kondisi bingung dan panik, tapi seolah-olah tenang—tetap di atas motor sambil mengamati mesin portal itu. Di sela-sela itu, petugas parkir itu mengarahkan saya sambil teriak, “Tekan tombol di bawah itu, Mas, nanti keluar karcisnya, portalnya terbuka.”
Lalu saya menekan tombol, tapi tidak seperti yang dikatakan, karcis tidak menyembul, palang portal tak juga kunjung terbuka. “Kok tidak bisa, ya?” kata saya dalam hati.
“Maju, Mas. Maju, Mas. Motornya itu tidak kena sensor. Dimajukan lagi motornya, Mas!” kata si petugas sambil teriak.
“Biasa aja dong, Pak,” gerutu saya dalam hati.
Setelah menelan rasa malu dan pahit karena kecurigaan, langkah untuk menyelesaikan misi ini pun dimulai dari tempat parkir menuju pintu masuk utama mal. Baru tiga meter melewati pintu utama, kami langsung disambut berbagai toko yang menjual berbagai macam laptop.
Di toko pertama yang kami singgahi, sesuatu yang sangat tak kami sangka terjadi. Ternyata, laptop dengan spesifikasi yang sama persis dengan laptop yang kami tanyakan di dua toko ritel di pinggir jalan harganya jauh lebih miring! Jika disandingkan dengan harga di lokapasar oren, selisihnya hanya seratus ribu rupiah. Logika kami nyaris tak sanggup mencernanya.
Selama puluhan tahun menikmati asam-garam dalam hidup ini, menurut keyakinan kami—dan mungkin sama seperti masyarakat pada umumnya—barang-barang yang dijual di dalam mal sudah pasti lebih mahal dan mencekik ketimbang yang dijual di luar mal. Namun, di dalam tempat yang selama ini kami persepsikan sebagai monumen kapitalis, keyakinan itu runtuh seketika.
“Kok bisa harganya lebih murah, ya?” ucap Tretan, masih dengan wajah kebingungan.
Saya, dengan tanpa ragu, berbisik, “Sudahlah, langsung ambil ini saja.”
“Coba kita cek tempat lain dulu, siapa tahu ada yang lebih murah,” balas Tretan.
Dalam sisa-sisa waktu terakhir kami memutuskan mengitari seluruh penjuru toko laptop di dalam mal ini. Selisih harga antar-toko ternyata sangatlah tipis. Namun itu semua tidak berarti sebab setiap selisih harga selalu diimbangi dengan ragam bonus tambahan.
Hasil akhir, toko pertama di dalam mal itu jadi pilihan. Dan di tengah gemerlap lampu di dalam monumen kapitalis itu kami hanya tersenyum sambil menatap laptop baru di dalam kantong belanjaan.
Bersambung…
Editor: Andi Surianto





