Tak Pernah Menyimpan Dendam & Puisi Lainnya

Tak Pernah Menyimpan Dendam & Puisi Lainnya

16: Kedatangan & Kepergian

Kucing liar itu tiba-tiba masuk ke dalam rumah
entah dari mana ia menyelinap
bau tubuhnya menguar seperti ikan rebus kuah kuning
yang menyusup ke kamarku

Kupikir ia akan benar-benar tinggal
ternyata hanya singgah di sela-sela waktu kosongku
ia bersembunyi di kolong meja
lalu meninggalkan bau pesing di pintu kamar mandi
di antara siang dan malamnya yang keranjingan

Kadang ia mengeong
seperti piring yang lupa aku cuci
kotor, berantakan sampai ibuku mengomel
setelah seharian bekerja

Mainan bola pelangi kesukaannya
menggelinding disapu angin
warnanya begitu kusam
kaku di lantai ubin yang dingin
meski tak ada yang mengejar
kini tertinggal hanyalah rekaman aktivitas lamanya

Di luar, kutengok jok motor penuh cakaran
bekas-bekas amarah kecil
atau sekadar penanda pulang?

Sejujurnya aku kesal pada kenangan itu
tak terima, tak bisa marah
pada yang tak sempat pamit

Mangkuk makanannya sengaja kubiarkan terisi ikan favoritnya,
air minumnya selalu kuganti setiap hari
tapi hanya semut-semut gatal yang sering mencicipi

Kebiasaanku makin lama terhenti
dengan pola yang tak sama lagi

Ah, kusadari semua kucing memang begitu
datang hanya untuk mengajari cara mengasihi
bahwa rumah bisa penuh riang
ketika guci-guci di lemari pecah semua

Aku menghitung kepergiannya pelan-pelan,
di antara pintu yang selalu kubuka dan kututup
di antara panggilan unik dan mainan kesukaannya

Sampai ke-enam belas kali ia kupanggil
masih saja aku mengelak
itu semua cuma cara lain
untuk mengatakan:
bahwa yang singgah sebentar
sering tinggal paling lama
di ingatan

2026

Tak Pernah Menyimpan Dendam

Aku teringat pernah menjewer kupingnya di meja makan
saat ia mengendus-endus lauk favoritnya
lalu jatuh saat kutepuk kepalanya
seperti piring stainless jatuh
ia berdenting meminta makan

Kulihat raut wajah memelas
pura-pura lesu
di tubuhnya yang gemoi
kepada babunya yang masih miskin

Ia kembali menggosokkan badannya ke kakiku
seolah ringan tanganku bukan ancaman
dan dengkuran yang tak menuntut apa-apa

Aku teringat dari masa laluku
untuk belajar mengakui kesalahan
pada setiap makhluk
yang pernah hadir
dan tak sedikitpun membawa dendam kepada pemiliknya

2026

Kucingku Berantem

Kucingku baru saja pulang berantem dengan kucing tetangga
ia bawakan bulu-bulunya yang rontok
di kepala dan tubuhnya yang penuh luka cakaran

Seperti orang dewasa
tak mau kalah debat
enggan merelakan kebisuannya

Ia kemudian minum sejenak,
makan untuk mengisi tenaganya yang kosong,
lalu tidur di belakang pintu masuk

Hari ini dia benar-benar lelah
tidak ingin diganggu
tidak ingin menjelaskan apa pun
begitu pula manusia

Barangkali hidup memang begitu
tidak semua masalah hidup perlu dilaporkan
cukup pulang, makan, minum, ngising, tidur,
dan masih bernapas

2026

Ia Datang Saat Air Mataku Tidak Punya Alamat

Tangisku berurai
seperti air hujan yang bocor dari atap rumah tua
tak dramatis, namun cukup untuk membuat bantal malam ini menjadi dingin

Kucingku datang untuk menenangkan
tanpa banyak tingkah, ia langsung mendengkur di atas dadaku
seperti kipas angin
ia tahu ke mana raga ini harus diteduhkan

Ia tatap wajahku dalam-dalam
dengan sedikit matanya yang pelan-pelan sayu,
seolah kesedihan harus ditampung ke dalam jiwanya
yang hangat

Tangisku pun terhenti
setelah ia memastikan
cuaca dari dalam diriku
benar-benar reda dalam gemuntur hujan

2026

Sejak Kematiannya

Ia meninggalkan garis-garis kuku
pada lengan tangan, gorden, sofa lapuk
dan kardus tempat ia beristirahat

Saat membersihkan sisa-sisa bulunya di lantai
sejak itu
aku belajar menerima
bahwa tidak semua yang datang
berutang pada pulang

2026

Editor: Farhan Azizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *