Pelajar dan Pekerja, Sama-sama Pergi Pagi Pulang Sore, Bedanya Hanya Seragam, Gaji, dan MBG

Saya suka sulit membedakan pelajar dan pekerja. Mereka sama-sama berangkat pagi-pulang sore. Sama-sama terikat aturan yang ketat. Pelajar kalau tidak masuk bisa tidak naik kelas, dan pekerja bisa-bisa kena potong gaji. Intinya, sama-sama di dalam keterbatasan.
Ditambah lagi, saya rasa mengapa sulit membedakan pelajar dan pekerja, selain karena waktu pergi dan pulang yang mirip, penampilan pelajar sekarang sudah hampir tidak seperti pelajar. Kebanyakan pelajar sekarang sepertinya sudah lebih peduli soal make-up. Cuman kepedulian itu sering tidak diimbangi pemahaman soal kewajaran. Terkadang anak SMA dengan usia 16-17 tahun, karena make-up yang di luar kewajaran, penampilan mereka tampak seperti orang berusia 25-30 tahunan.
Tapi, menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang bisa jadi indikator untuk membedakan pelajar dan pekerja.
#1 Seragam Dinas dan Seragam Sekolah
Seragam ini sudah jadi sebuah keniscayaan. Siapapun mereka, anak raja, anak presiden, anak tuhan sekalipun, jika mereka adalah seorang pelajar di suatu sekolah maka wajib hukumnya mengenakan seragam.
Begitu pula pekerja. Selama mereka pekerja, baik di sebuah korporasi, birokrasi, institusi pemerintah, dan lain sebagainya maka wajib hukumnya mengenakan seragam.
Inilah yang, paling tidak, dapat mempermudah kita untuk membedakan pekerja dengan pelajar.
#2 Gaji atau Pendapatan
Kedua, yang juga jelas membedakan pelajar dan pekerja itu adalah gaji. Mereka yang pergi pagi-pulang sore sebagai pelajar tidak mungkin digaji oleh sekolah. Mereka itu hanya dapat bekal dari orang tua masing-masing.
Sementara mereka yang pergi pagi-pulang sore sebagai pekerja atau untuk bekerja bisa dipastikan, mereka pasti mendapatkan gaji dari kantor perusahaan, pemerintah, atau tempat-tempat lain yang pada umumnya menjadi tempat di mana para pekerja itu bekerja.
Namun, perbedaan yang kedua ini sebetulnya sulit dibedakan. Kita tentu tidak bisa dari luar menerka-nerka, apakah orang yang sehari-harinya pergi pagi-pulang sore ini dapat gaji atau tidak.
Tapi, sedikit cara yang mungkin bisa kita lakukan adalah melihat gaya hidup mereka. Jika gaya hidupnya cenderung minim pertimbangan, maka bisa disimpulkan sementara bahwa dia adalah pelajar.
Lalu, jika dia punya kecenderungan untuk memutuskan sesuatu dengan pertimbangan yang lebih, entah itu ekonomi atau fungsinya maka boleh jadi dia adalah pekerja. Tapi, ini harus diimbangi juga dengan indikator lain yang jadi perbedaan pelajar dan pekerja.
#3 Makan Bergizi Gratis
Yang ketiga, suatu prinsip yang sangat membedakan pelajar dan pekerja adalah gizi yang mereka dapat lewat MBG. Mengapa yang ketiga ini disebut prinsip? Alasannya karena menurut Presiden Prabowo, program MBG ini—bagaimanapun kondisi yang terjadi di Indonesia—akan tetap dijalankan.
Jadi, pelajar di seluruh sekolah di seluruh daerah di Indonesia niscaya dan selalu akan dapat MBG. Sedangkan, pekerja, belum tentu. Kita tidak tahu kalau ada gebrakan kedepannya, para pekerja bisa saja dapat MBG.
Seragam bisa berganti, gaji bisa turun-naik jika dalam situasi dan kondisi tertentu. Namun, tidak bagi MBG, sekalipun seandainya Iran berencana menyerang Indonesia, MBG senantiasa menjadi prinsip yang membedakan pelajar dengan pekerja.





