Algoritma Daging dan Aspal

Jakarta pukul dua belas siang adalah neraka bocor. Panasnya tidak masuk akal. Matahari seperti lampu sorot interogasi yang dipasang lima senti di depan kening.
Dari balik kaca tebal lantai 27 di kawasan TB Simatupang, kota ini tampak bisu. Mobil-mobil di jalan tol lingkar luar hanya serpihan logam yang merayap pelan, berkilauan ditimpa cahaya putih yang menyilaukan. Di sini, di dalam kubikel yang karpetnya berbau debu tua dan pengharum ruangan jeruk nipis sintetis, suhu dijaga konstan delapan belas derajat. Dingin yang menusuk kulit, kontras dengan oven raksasa di luar sana.
Tapi dingin itu tidak membantu. Justru dingin itu membuat lapar semakin tajam.
Sudah tiga jam aku terjebak di ruangan kaca bersama Pak Herman. Mulutnya terus bergerak, menyemburkan kata-kata kosong: sinergi, disrupsi, efisiensi. Suaranya berdengung, timbul tenggelam di telingaku, kalah oleh suara lain yang lebih purba: geraman lambungku sendiri.
Asam lambung ini bukan sekadar perih. Ia hidup. Ia seperti tangan kecil yang meremas dinding perut dari dalam, memelintirnya pelan-pelan, menuntut tumbal. Sarapan bubur ayam pukul tujuh tadi sudah menguap tak berbekas, dibakar habis oleh stres mengejar deadline.
Aku melirik arloji. 12:15.
Cukup. Persetan dengan sinergi. Aku butuh lemak. Aku butuh santan.
Tangan kiriku merogoh saku celana di bawah meja, bergerak dengan hapalan memori otot, membuka aplikasi berlogo hijau. Jempolku menari cepat, tidak butuh waktu untuk berpikir. Soto Betawi H. Mamat. Daging, paru, kuah pisah. Nasi setengah. Tambah perkedel.
Mencari pengemudi…
Sistem bekerja. Algoritma di awan sana sedang melempar jaring, mencari ikan kecil yang bersedia menukar bensin dan keringat demi uang antar dua belas ribu perak.
Dapat.
Budi Santoso.
Honda Supra X 125. Plat B 6782 WKE.
Rating 4.8.
Posisi: 1.5 kilometer dari restoran.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah di atas paha, kembali berpura-pura mengangguk pada ocehan Pak Herman. Tapi pikiranku sudah melayang ke mangkuk soto itu. Aku bisa membayangkan uapnya, aroma cengkeh dan kapulaga, tekstur daging yang luluh di lidah. Imajinasi itu membuat air liurku terbit, memenuhi rongga mulut.
Sepuluh menit berlalu. Rapat bubar.
Aku bergegas kembali ke meja kerja, menghempaskan punggung ke kursi ergonomis mahal ini, dan langsung menyalakan layar ponsel.
Peta digital terbuka.
Titik restoran: Ikon garpu sendok.
Titik Budi: Ikon motor kecil.
Jarak mereka: 200 meter.
“Sedikit lagi,” gumamku.
Tapi titik itu berhenti.
Tepat di persimpangan Fatmawati yang sedang digali untuk proyek pipa entah apa. Titik motor itu diam membatu. Aku menunggu. Satu menit. Dua menit. Layar ponsel mulai meredup, kusentuh lagi agar tetap menyala.
Masih diam.
Rasa lapar yang tadi berupa perih, kini bermutasi menjadi amarah. Hangry. Kombinasi lapar dan marah yang bisa membuat manusia beradab menjadi barbar dalam hitungan detik.
Di kepalaku, skenario-skenario buruk mulai berputar. Si Budi ini pasti sedang berhenti merokok. Atau dia sedang meladeni orderan titipan manual di pinggir jalan. Atau yang paling sering terjadi: dia serakah, mengambil dua-tiga order sekaligus di aplikasi lain, mengorbankan perutku demi tambahan uang receh.
Dasar mental tidak profesional.
Aku mengetik pesan. Bukan pertanyaan sopan, melainkan teguran. Hak-ku sebagai pembayar jasa.
“Mas, kenapa berhenti? Jalan dong.”
Centang satu abu-abu. Lalu berubah menjadi dua. Lalu biru.
Read.
Dibaca.
Darahku mendesir naik ke leher. Dia membacanya. Dia memegang ponselnya. Dia tahu aku menunggu. Dan dia memilih untuk tidak membalas.
Keheningan digital ini lebih menyakitkan daripada makian. Ini adalah bentuk pengabaian. Aku merasa disepelekan. Aku, yang duduk di menara gading ber-AC ini, sedang dipermainkan oleh seseorang di jalanan. Ego kelaki-lakianku tersentil.
Tiga menit lagi berlalu. Titik itu masih di sana. Terpaku di koordinat yang sama.
Aku menekan tombol telepon.
Tersambung.
Tuuut… Tuuut…
Suara sambungan yang panjang dan sepi. Tidak diangkat. Aku mencoba sekali lagi. Kali ini, panggilanku langsung putus.
Nomor yang Anda tuju sedang sibuk…
Ditolak.
Bajingan.
“Anjing,” umpatku lirih. Teman di kubikel sebelah menoleh sebentar dengan tatapan heran, tapi aku tak peduli.
Jempolku kembali mengetik, kali ini dengan tekanan yang lebih keras ke layar, seolah kekuatan tekanku bisa mengirimkan rasa sakit fisik ke seberang sana.
“Woy! Niat kerja tidak sih?!”
“Kalau mau ngetem jangan pas ambil orderan orang!”
“Aku laporin kantor pusat, mati akunmu selamanya.”
Pesan-pesan itu terkirim. Centang biru lagi. Dibaca lagi. Dan tetap hening.
Ini sudah bukan soal soto. Ini soal hierarki. Soal siapa yang memerintah dan siapa yang melayani. Aku merasa kuasaku dilucuti. Perutku melilit, bukan cuma karena kosong, tapi karena emosi yang menggumpal. Aku membayangkan wajah Budi—mungkin pria paruh baya dengan jaket bau matahari—sedang terkekeh membaca pesanku sambil menyeruput kopi saset di warung pinggir jalan.
“Oke. Kamu mau main-main,” desisku.
Aku membuka menu bantuan. Jariku melayang di atas opsi Batalkan Pesanan. Alasan: Pengemudi tidak bergerak. Aku juga sudah menyiapkan draf ulasan bintang satu yang paling jahat, kalimat-kalimat yang dirancang untuk menghancurkan reputasinya di mata algoritma.
Baru saja jariku hendak menyentuh tombol merah Cancel, layar ponselku berkedip aneh.
Bukan mati, tapi refresh paksa.
Ada jeda satu detik di mana layar menjadi putih kosong.
Lalu muncul notifikasi yang bersih, sopan, dan sangat robotik.
Kami mendeteksi kendala pada mitra pengemudi. Mencari pengemudi baru…
Sederhana sekali. Tanpa penjelasan. Tanpa permintaan maaf.
Dalam sekejap mata, nama Budi Santoso lenyap dari layar.
Foto profilnya yang buram—wajah lelah dengan latar tembok batako—menghilang.
Riwayat chat berisi makianku terhapus bersih, seolah tidak pernah kutulis.
Titik beku di Fatmawati itu diangkat dari peta digital.
Hening sejenak. Lalu… Ting!
Pengemudi ditemukan: Anto.
Sedang menuju restoran.
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung yang tegang. Emosiku surut perlahan, digantikan rasa lega yang pragmatis.
“Nah, begitu kek dari tadi. Menyusahkan saja,” gerutuku pelan.
Sistem bekerja sempurna. Mesin kapitalisme ini memiliki mekanisme perbaikan diri yang canggih. Jika satu sekrup rusak—jika satu Budi macet—mesin tidak boleh berhenti. Sekrup itu dibuang, diganti sekrup baru bernama Anto. Roda ekonomi harus tetap berputar, dan yang paling penting: aku harus makan.
Dua puluh menit kemudian, soto betawi itu tiba.
Masih panas. Plastiknya diikat kuat dengan karet gelang ganda.
Aku membawanya ke pantry, menuangnya ke mangkuk. Uap santan mengepul, persis seperti imajinasiku. Rasanya? Luar biasa. Gurih, asin, berlemak. Aku makan dengan lahap, nyaris tanpa mengunyah. Potongan daging sapi itu meluncur mulus ke kerongkongan, mengisi kekosongan, memadamkan amarah. Aku berkeringat, kekenyangan, dan merasa puas.
Nama Budi sudah sepenuhnya terhapus dari memori jangka pendekku. Dia hanyalah glitch kecil dalam hari yang sibuk. Gangguan sinyal yang tak berarti.
***
Pukul enam sore.
Langit Jakarta di luar jendela bukan lagi putih, melainkan ungu kehitaman, seperti warna kulit yang memar dipukul benda tumpul.
Aku memesan ojek daring untuk pulang. Tubuhku lelah, otakku tumpul setelah seharian menatap angka. Aku hanya ingin sampai di indekos, mandi air hangat, dan tidur.
Jalanan macet parah. Lebih parah dari biasanya. Ojek yang kutumpangi—dikendarai anak muda bernama Reza—harus meliuk-liuk ekstrem di antara celah bumper mobil mewah. Kami merayap mendekati perempatan Fatmawati, titik yang sama dengan drama makan siangku tadi.
Tapi kali ini suasananya beda.
Ada hening yang menggantung di udara, meski klakson bersahutan.
Ada cahaya biru-merah berputar-putar dari atap mobil polisi.
“Ada apa sih, Bang? Tumben macetnya mati begini,” tanyaku setengah berteriak melawan angin.
Reza membuka kaca helmnya sedikit. “Kecelakaan, Mas. Parah sekali. Tadi siang kejadiannya, tapi baru selesai evakuasi bangkai truknya. Truk tanah rem blong, menghajar motor yang lagi berhenti di lampu merah.”
Motor kami melipir pelan melewati garis polisi yang mulai dikendurkan.
Dan saat itulah, aroma itu menyergap.
Bukan bau asap knalpot. Bukan bau sampah.
Itu bau anyir yang kental dan logam. Bau zat besi yang teroksidasi udara panas. Bau kematian yang belum sempat dicuci hujan.
Di aspal yang hitam, ada taburan pasir kasar yang ditebar petugas untuk menutupi genangan luas. Genangan itu gelap, pekat, dan berkilau ditimpa lampu jalan merkuri. Garis kapur putih masih terlihat samar, membentuk pose tubuh manusia yang tertekuk tidak wajar. Seperti boneka kain yang dibanting anak kecil yang sedang tantrum.
Motor kami berjalan pelan sekali karena antrean kendaraan yang penasaran.
Mataku, entah kenapa, terpaku pada selokan kering di pinggir trotoar, tepat di sebelah garis kapur itu.
Ada benda-benda yang disingkirkan ke sana. Sampah kejadian perkara.
Sebuah helm hijau yang pecah separuh, busa dalamnya terburai keluar seperti isi perut.
Dan di sebelahnya… sebuah bungkusan plastik oranye.
Gepeng. Penyet. Terlindas ban ganda truk tronton.
Isinya muncrat keluar.
Cairan kuning kental. Santan.
Potongan-potongan daging kotak-kotak.
Dan perkedel yang hancur menjadi bubur.
Cairan soto itu bercampur dengan tanah, debu, dan gumpalan-gumpalan merah gelap yang mulai dikerubungi lalat hijau gemuk. Lalat-lalat itu berdengung riang, berpesta di atas campuran bumbu soto dan… darah manusia.
Duniaku miring.
Jantungku seperti dipukul palu godam.
Soto betawi? Tadi siang? Di simpang Fatmawati?
Di trotoar, seorang tukang parkir tua dengan rompi oranye kumal sedang diwawancarai oleh seseorang yang memegang kamera ponsel. Karena motor kami berhenti tepat di sebelahnya, aku bisa mendengar suaranya yang serak dan gemetar.
“Ngeri, Pak… Sumpah demi Tuhan saya tidak kuat lihatnya,” kata si tukang parkir, menyeka keringat dingin di lehernya yang berdaki.
“Itu korban tergencet ban depan. Meninggal di tempat. Tapi yang bikin saya tidak bisa lupa… itu ponselnya, Pak.”
Si tukang parkir menelan ludah, matanya nanar menatap aspal.
“Ponselnya terpental ke trotoar. Layarnya retak seribu, tapi masih menyala. Masih hidup. Pas korban lagi mengerang sakaratul maut—napasnya sudah bunyi ngik-ngik seperti orang mengorok darah—itu ponsel bunyi terus. Ting-tung. Ting-tung. Notifikasi pesan masuk.”
Tanganku di saku jaket mulai gemetar hebat. Dingin menjalar dari ujung jari ke seluruh tubuh.
“Saya penasaran, saya intip sedikit pas mau mengamankan ponselnya,” lanjut si tukang parkir. “Isinya makian, Pak. Orang yang pesan makanan marah-marah. Tulisannya… ‘Woy jalan’, ‘Kerja nggak niat’, ‘Anjing’. Begitu…”
Dia menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya penuh horor.
“Terbayang tidak, Pak? Di detik-detik terakhir nyawanya mau dicabut, suara yang menemani dia bukan doa, bukan suara anak-istrinya… tapi tulisan ‘Anjing’ dari orang yang tidak sabaran.”
Aku merasa seperti ditinju tepat di ulu hati.
Asam lambungku yang tadi siang sudah tenang, kini bergolak hebat, lebih ganas dari sebelumnya. Soto betawi yang kumakan dengan lahap tadi—daging yang kupuji keempukannya itu—tiba-tiba terasa hidup kembali. Ia merayap naik, memaksa keluar dari tenggorokan.
Rasa gurih soto itu berubah menjadi rasa dosa.
“Terus…” suara tukang parkir itu melemah, “Pas napas terakhirnya lewat, pas badannya sudah tidak bergerak… ponselnya berkedip. Layarnya berubah tulisannya jadi: Order Dibatalkan. Mencari Pengemudi Baru… Terus ponselnya mati total.”
“Jalan, Bang!” teriakku pada Reza. Suaraku parau, nyaris menangis. “Jalan cepat! Pergi dari sini!”
Reza kaget, tapi dia tancap gas. Motor melaju menembus kemacetan, meninggalkan titik mati itu. Meninggalkan jejak darah dan kuah soto yang menyatu di aspal.
Angin malam menampar wajahku, tapi aku tidak bisa bernapas. Dada ini sesak sekali.
Budi tidak berhenti karena malas.
Budi tidak berhenti karena merokok.
Dia berhenti karena dadanya remuk dihantam besi seberat sepuluh ton.
Dia tidak menolak teleponku. Jemarinya yang mungkin sudah patah, tak mampu lagi menggeser layar.
Dan aku… aku adalah suara terakhir yang dia dengar di dunia fana ini.
Aku adalah iblis yang membisikkan “Anjing” ke telinganya saat malaikat maut datang menjemput.
Aku membunuhnya dengan ketidaksabaran. Aku menghakiminya tanpa tahu apa-apa.
Dan sistem yang canggih itu?
Aplikasi kebanggaan itu?
Dengan dingin, efisien, dan tanpa perasaan, sistem itu telah “membersihkan” mayat Budi dari layarku. Menghapus jejak darahnya dari riwayat pesanan, menggantinya dengan pengemudi lain, supaya aku—si konsumen raja—bisa makan siang dengan tenang tanpa merasa berdosa. Tanpa selera makanku terganggu oleh kematian seorang buruh jalanan.
Aku sampai di indekos dengan tubuh menggigil. Aku lari ke kamar mandi, menumpahkan semua isi perutku ke dalam kloset.
Soto itu keluar. Warnanya kuning, bercampur merah darahku sendiri karena iritasi lambung. Bau anyir memenuhi kamar mandi kecil itu.
Aku terduduk di lantai keramik yang dingin, memeluk lutut. Menangis tanpa suara.
Di saku celana yang tergolek di lantai, ponselku bergetar pendek.
Aku tahu itu apa.
Aku tidak mau melihatnya.
Aku takut setengah mati.
Tapi layar itu menyala sendiri di ruangan yang gelap. Cahayanya menembus kegelapan, menuntut perhatian. Sebuah algoritma yang polos, lugu, bodoh, dan tidak punya hati, yang diprogram untuk satu tujuan: evaluasi kepuasan pelanggan.
Di layar itu, sebuah kotak dialog muncul, meminta validasi atas transaksi makan siangku yang berdarah:
Bagaimana rasa makananmu tadi siang?
Beri bintang lima!
****
Penulis: Farhan Azizi
Editor: Andi Surianto









