Menjadi Dewasa: Tumbuh Dalam Kebingungan Berlapis

Menjadi dewasa bagi kita (anak muda) sekarang adalah tumbuh dalam kebingungan berlapis; soal arah hidup, pilihan, dan tentang siapa diri kita sebenarnya. Sedangkan menurut kisah-kisah orang “jadul”, dewasa adalah fase ketika seseorang memiliki tujuan yang jelas, langkah mantap, dan keputusan tanpa ragu-ragu.
Pada usia yang disebut sebagai “masa produktif”, kita sudah dihadapkan pada begitu banyak tuntutan; harus cepat lulus kuliah, segera bekerja, mapan secara ekonomi, dan menunjukkan pencapaian yang bisa dibanggakan. Kita seolah harus berlomba dengan waktu. Kenyataannya, ruang untuk bertanya secara jujur di tengah derasnya tuntutan itu sangatlah jarang: apakah semua ini benar-benar yang diinginkan, atau sekadar yang diharapkan oleh lingkungan?
Kebingungan ini semakin terasa karena hidup kita saat ini berjalan dalam ritme yang serba cepat. Media sosial menjadi etalase kehidupan orang lain yang tampak lebih rapi, lebih sukses, dan lebih bahagia. Kita disuguhi cerita tentang pencapaian teman sebaya: lulus cepat, karir menanjak, usaha berhasil, atau kehidupan yang terlihat stabil. Tanpa disadari, perbandingan itu pelan-pelan membentuk standar tentang “dewasa yang ideal”, standar yang sering kali tidak realistis dan tidak adil.
Akibatnya, banyak dari kita merasa tertinggal, meski sebenarnya sedang berjalan dengan ritmenya sendiri. Fase kemunculan perasaan labil berubah menjadi tekanan. Tidak tahu arah hidup dianggap sebagai kegagalan, padahal kebingungan adalah bagian wajar dari proses bertumbuh. Sayangnya, kebingungan jarang diberi tempat. Kita dituntut untuk segera “menemukan diri”, seolah hidup adalah soal jawaban cepat, bukan perjalanan panjang.
Sistem Pendidikan dan Ekspektasi
Di sisi lain, sistem pendidikan dan lingkungan sosial juga kerap mendorong kita untuk fokus pada hasil, bukan proses. Nilai, gelar, dan pencapaian menjadi tolok ukur utama. Pertanyaan tentang makna belajar, minat personal, atau kesehatan mental sering kali tersisih. Dampaknya, kita hanya menjalani pendidikan tanpa benar-benar memahami untuk apa kita belajar selain untuk memenuhi ekspektasi dan menghindari kekecewaan orang lain.
Kebingungan ini juga diperparah oleh minimnya ruang aman untuk gagal. Kesalahan sering dianggap aib, bukan bagian dari pembelajaran. Kita didorong untuk selalu terlihat kuat, mandiri, dan mampu mengatasi segalanya sendiri. Padahal, di balik citra itu, tidak sedikit yang merasa lelah, cemas, dan kehilangan arah. Lelah yang kemudian dinormalisasi, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses menjadi dewasa.
Menjadi dewasa akhirnya bukan lagi tentang kematangan emosional atau pemahaman diri, melainkan tentang kemampuan bertahan. Bertahan dari tekanan, bertahan dari perbandingan, dan bertahan dari rasa takut akan masa depan. Dalam kondisi seperti ini, kebingungan bukan karena kurang usaha, melainkan karena terlalu banyak suara yang harus didengar, terlalu banyak standar yang harus dipenuhi.
Namun, kebingungan tidak selalu berarti kelemahan. Justru dari kebingungan, seseorang bisa belajar mengenali dirinya dengan lebih jujur. Kebingungan membuka ruang untuk bertanya, meragukan, dan mengevaluasi kembali pilihan hidup. Ia menjadi tanda bahwa seseorang sedang berpikir, bukan sekadar mengikuti arus. Sayangnya, kebingungan ini sering dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dipahami.
Anak muda hari ini sebenarnya membutuhkan satu hal sederhana: waktu dan ruang. Waktu untuk mengenal diri tanpa tekanan berlebihan, dan ruang untuk tumbuh tanpa harus selalu dibandingkan. Menjadi dewasa seharusnya bukan perlombaan, melainkan proses yang personal. Setiap orang punya ritme, latar belakang, dan perjuangan yang berbeda.
Pada akhirnya, menjadi dewasa di tengah kebingungan adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Yang perlu diubah bukan perasaan bingung itu sendiri, melainkan cara memandangnya. Kebingungan bukan musuh, melainkan bagian dari perjalanan menuju pemahaman diri. Kita tidak selalu harus punya jawaban hari ini. Terkadang, bertanya dan bertahan sudah cukup menjadi bentuk keberanian.
Menjadi dewasa bukan tentang selalu tahu ke mana harus melangkah, tetapi tentang berani melangkah meski belum sepenuhnya yakin. Dan mungkin, di situlah makna kedewasaan yang sesungguhnya mulai terbentuk.
Editor: Ihya Ulumuddin









