Pentingnya Menjaga Tradisi: Belajar dari Tradisi Massawa

Kecepatan informasi dan pergeseran dalam pembagian kerja di masyarakat akibat dari perkembangan zaman memengaruhi nilai-nilai kebersamaan yang ada di masyarakat. Meminjam istilah Emile Durkheim, pergeseran nilai ini disebabkan oleh pergeseran antara solidaritas mekanik yang ditandai dengan ketergantungan hidup satu sama lain secara komunal, berubah ke solidaritas organik yang berdasarkan pembagian kerja di kalangan masyarakat. Faktor ideologis dari gerakan Islam puritan juga menjadi salah satu faktor sehingga ditinggalkannya suatu tradisi, karena gerakan ini menempatkan tradisi-tradisi leluhur sebagai sesuatu yang harus memang ditinggalkan.
Melihat tradisi-tradisi lokal semakin ditinggalkan, membuat saya khawatir kalau nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong di masyarakat akan menghilang. Karena tradisi-tradisi yang ada di masyarakat berfungsi sebagai modal sosial untuk mengikat kebersamaan dan sarana untuk menjaga solidaritas. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjaga tradisi-tradisi lokal kita.
Sebagai masyarakat, cara menjaga tradisi lokal agar tetap dilestarikan, tidak hanya cukup dengan memberikan ceramah atau slogan bahwa tradisi lokal itu penting, tetapi juga perlu keterlibatan aktif sebagai pelaku dan senantiasa mendokumentasikannya untuk tujuan konten edukatif supaya dunia tahu eksistensi tradisi kita.
Pada zaman sekarang, kecepatan informasi bisa menjadi musuh dan juga kawan. Semakin banyak informasi budaya lain yang dikonsumsi, jangan sampai membawa kita meremehkan budaya sendiri. Misalnya budaya Korea yang dikonsumsi anak muda melalui dramanya, menciptakan standar bahwa budaya Korea lebih keren daripada budaya Indonesia di kalangan anak muda. Perilaku ini sebenarnya disebabkan oleh minimnya pengetahuan anak muda akan budayanya sendiri.
Kemudahan informasi perlu dimanfaatkan, dengan mendokumentasikan budaya lokal kita. Lebih tepatnya dengan menghasilkan konten yang edukatif, menghibur, dan layak dikonsumsi media supaya anak muda bisa lebih mengenal budayanya.
Dalam tantangan ideologis, kebudayaan lokal kita tidak hanya diserang oleh pengaruh kebudayaan negara lain, tetapi juga dari internal negeri kita sendiri, misalnya pengaruh agama kita sendiri. Sikap pemurnian dari gerakan Islam puritan mengikis eksistensi tradisi lokal.
Menghadapi tantangan ini, perlu cara tersendiri. Yaitu, alih-alih menganggap tradisi lokal bertentangan dengan agama, Kementerian Agama (2019) justru mengedepankan sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal.
Agama sama sekali tidak selamanya bertentangan dengan tradisi-tradisi leluhur, malahan agama dan tradisi lokal bisa jalan bersama, seperti baju Bodo yang dahulu tidak memakai hijab/kerudung kini bisa digunakan, sehingga aurat tidak lagi terlihat (AGH. Baharuddin, 2023).
Memang tradisi tidak semuanya baik, ada juga yang benar-benar perlu ditinggalkan, misalnya tradisi “sigajaang laleng lipa”, kini sudah tidak relevan lagi karena negara sudah hadir untuk menghukum yang salah. Kita sudah tidak perlu menghukum orang yang bersalah secara langsung demi menjaga siri, tetapi biarkan hukum yang mengadilinya.
Satu tradisi yang ingin saya angkat sebagai tradisi yang perlu dipertahankan adalah tradisi Massawa yang diadakan oleh beberapa desa di Kabupaten Bone bagian barat. Dalam prosesinya, masyarakat akan membuat makanan tradisional yang disebut sebagai Sawa dan di beberapa daerah ada yang menyebutnya Leppe-leppe, yang terbuat dari beras dan hanya dibungkus dengan sehelai daun kelapa muda.
Massawa adalah tradisi masyarakat Bugis yang diperuntukkan untuk doa keselamatan dan menolak bala. Ada dua jenis Massawa, pertama yang diadakan rutin setahun sekali oleh seluruh masyarakat di suatu daerah untuk doa keselamatan kampungnya. Kedua Massawa yang diadakan pada waktu-waktu tertentu oleh satu keluarga untuk keselamatan pribadi atau keluarga, misalnya yang diadakan setelah melahirkan untuk doa keselamatan anaknya, setelah pernikahan untuk doa keselamatan pernikahannya, dan lain-lain yang diperuntukkan untuk menolak bala.
Biasanya dalam Massawa tahunan, Sawa akan dibawa ke masjid untuk didoakan oleh Sanro dan/atau Guruh, kemudian setelah didoakan masyarakat akan mengundang sanak saudara dan kenalan dari desa lain (daerah yang tidak mengadakan Massawa) untuk makan bersama di rumahnya, karena masing-masing rumah di daerah yang mengadakan Massawa membuat Sawa masing-masing, sehingga daerah yang mengadakan jadi ramai oleh para tamu-tamu dari luar daerah.
Satu daerah dikelompokkan berdasarkan masjid yang ada di situ, misalnya di sebuah desa terdiri dari 3 masjid, jadi di desa itu mereka mengadakan 3 kali acara Massawa tahunan, yang diadakan secara bergiliran di setiap masjid. Jadi, masyarakat yang belum mengadakan bisa membantu masyarakat yang sedang mengadakan.
Menurut Naharuddin (2026), salah satu ketua RT di Desa Seberang yang pernah tinggal di Desa Sengengpalie, tradisi Massawa sudah ada sejak sebelum Islam datang. Beberapa daerah memiliki cara yang berbeda dalam melaksanakan acara ini. Misalnya, di Desa Sengengpalie masyarakat membacakan barazanji ketika Sawa didoakan di masjid, sedangkan di Desa Seberang tidak ada pembacaan barazanji.
Esensi tradisi Massawa terletak pada kebersamaan. Pembuatan Sawa dan prosesi pelaksanaannya melibatkan banyak orang, sehingga masyarakat dapat saling bertemu dan menjaga silaturahmi dengan makan Sawa bersama. Sebaliknya, kurangnya tradisi yang menjadi sarana silaturahmi sering membuat masyarakat lebih individualis. Hal ini terlihat di masyarakat kota, yang jarang bercengkerama dengan tetangga sehingga kadang mereka tidak saling mengenal.
Tradisi menjadi wadah untuk bercengkerama dan menumbuhkan solidaritas. Solidaritas yang kuat menjadikan lingkungan lebih aman dan harmonis.









