4 Langkah Jitu Menghadapi Quarter Life Crisis

Ketika ada satu hal yang tidak sesuai keinginan seberapa sering kita menyalahkan diri sendiri? Yang terjadi memang kerap tidak sejalan dengan apa yang kita rencanakan. Ekspektasi, tuntutan sosial, dan harapan masyarakat membuat diri kita terjebak dalam bayang-bayang abstrak yang perlahan membuat diri kita merasa kurang.
Perayaan atas pencapaian layaknya konsumsi media sosial dewasa ini. Berbagai prestasi yang telah diraih, atau aktivitas pekerjaan yang sedang digeluti demi menunjukkan identitas dan status sosial.
Konten-konten tersebut, secara tidak langsung, kadang kala membuat kita sebagai pengguna media sosial merasa minder sekaligus iri. Kita (tanpa sadar) mulai membandingkan pencapaian, meragukan langkah, dan kembali mempertanyakan siapa diri kita.
Itulah yang disebut quarter life crisis. Umumnya perasaan ini terjadi pada sebagian (atau semua) Gen-Z.
Menurut riset Karpika & Segel (2021), quarter life crisis dipicu oleh faktor perkembangan manusia, sehingga dipahami sebagai fenomena emosional pada tahap dewasa awal. Kedatangan quarter life crisis ditengarai oleh perasaan takut atas masa depan—ketidakjelasan tujuan hidup, dan perbandingan sosial—melalui media sosial.
Berdasarkan survei yang dilakukan GenSINDO kepada responden rentang usia 18-25 tahun, terdapat 95% responden mahasiswa di perguruan tinggi mencemaskan 5 (lima) hal berikut: karir, jodoh, pendidikan, persaingan global, dan kesehatan. Data tersebut menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami mahasiswa tidak hanya permasalahan individu saja, tetapi juga masalah sosial.
Gejala-Gejala Quarter Life Crisis
Adapun gejala yang dialami Gen-Z dalam fenomena ini adalah sebagai berikut.
1. Terjebak dalam Pola Hidup yang Berulang
Gen-Z, khususnya mahasiswa tentu memiliki berbagai kesibukan tidak hanya tugas kuliah, tetapi juga organisasi maupun aktivitas lainnya. Tidak menutup kemungkinan, terkadang muncul perasaan stuck atau jenuh dengan rutinitas yang dijalani. Hal ini mengakibatkan muncul perasaan kebingungan, kelelahan, dan ketidakpuasan yang merupakan gejala umum dari Quarter life crisis.
2. Realita yang Tidak Sesuai Harapan
Seringkali usaha dan kerja keras yang dilakukan tidak memperlihatkan hasil nyata secara langsung. Ketidaksesuaian antara harapan dan realitas dapat menimbulkan perasaan kecewa berlebihan.
Selain itu, perasaan kecewa dapat disebabkan oleh pandangan mengenai standar tinggi yang ditetapkan oleh lingkungan sosial, seperti tuntutan harus lulus cumlaude, segera mendapatkan kerja, atau mendapatkan IPK tinggi. Akibatnya, individu merasa stress akibat tidak memenuhi standar sosial atau ekspektasi sosial, meskipun masih berada dalam proses pencarian jati diri.
3. Perasaan Takut Gagal
Perasaan takut gagal menghambat individu untuk melangkah. Bahkan, dapat mendorong individu untuk berbelok arah ke dalam aktivitas negatif atau tidak produktif. Tuntutan dan ekspektasi dari orang tua dan masyarakat sekitar merupakan salah satu penyebab individu menjadi pribadi yang individual materialistik sebagai upaya mencari pengakuan. Perasaan ini juga diperparah oleh keberhasilan teman seperjuangan dalam bidang akademik dan karir, sementara dirinya tidak mencapai hasil yang sama, meskipun memulai di waktu yang sama.
4. Insecure & Overthinking
Sebagai makhluk sosial, kita terbiasa berinteraksi baik di dunia maya atau dunia nyata. Tak heran, apabila dari interaksi tersebut memicu rasa kurang percaya diri, terutama ketika terlalu fokus dengan apa yang telah dimiliki orang lain sehingga terkadang lupa dengan apa yang kita miliki.
Di sisi lain, overthinking memikirkan masa depan juga kerap dilakukan oleh Gen-Z. Kondisi ini terjadi ketika individu merasa cemas terhadap masa depan dan meragukan keputusan yang diambil. Akibatnya, individu mengalami kelelahan mental dan kesulitan merencanakan arah hidup.
Apabila gejala di atas tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan mental individu.
4 Langkah Jitu Menghadapi Quarter Life Crisis
Oleh karena itu, diperlukan upaya dalam menghadapi quarter life crisis dengan melakukan langkah-langkah berikut:
1. Self Efficacy
Keyakinan diri diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan. Dalam hal ini, keyakinan diri juga harus disertai dengan rasa percaya diri dalam bertindak dan mengubah keraguan menjadi tindakan.
2. Self Awareness
Individu harus memiliki kesadaran bahwa dirinya memiliki potensi, kelebihan, dan kekurangan masing-masing.
3. Self Regulation
Individu harus berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan perlu fokus terhadap diri sendiri.
4. Personality Development
Individu perlu belajar mencintai diri sendiri dengan melakukan berbagai aktivitas positif, seperti membuat journaling, membaca buku, aktif berorganisasi, mengikuti perlombaan, dan lain sebagainya. Tidak lupa, peran teman sebaya (peer group) juga diperlukan sebagai support system dalam membentuk pengembangan kepribadian.
Jadi, apakah kita masih ingin terus menyalahkan diri sendiri ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan? Pada kenyataannya, musuh terbesar kita sering kali bukan keadaan, tetapi adalah pikiran kita sendiri.
Dengan terus mengutuk diri, tidak akan pernah menyelesaikan persoalan apa pun. Karena pada akhirnya, semua kembali pada cara kita menanggapi, menerima, dan berusaha dalam menemukan arah hidup.
Editor: Muhammad Farhan Azizi










🥹 so true, this is just happen, hopefully everyone can pass this phase 💕
keren sadnaa.. bener.. it will pass🤍