143

Sebuah fenomena terjadi di negeri manusia. Mendadak mereka lupa kata sandi untuk mengaktifkan hati. Negeri manusia menjadi kacau. Mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Mereka kehilangan rasa. Mereka tidak bisa memberikan dan menerima cinta. Keluhan mereka pun terdengar lemah.
“Bagaimana aku akan menerima cinta dari Tuhan jika begini?”
“Aduh. Aku tidak bisa mengunjungi kekasihku hari ini.”
“Aku tidak bisa menonton drama hari ini.”
Dan keluhan lainnya. Sebenarnya, dulu manusia memiliki hati. Entah sejak kapan manusia mulai bergantung pada alat untuk merasakan sesuatu, menerima, dan memberikan cinta. Mungkin terasa lebih praktis.
Sa, seorang manusia yang berprofesi sebagai kreator konten juga merasakan dampaknya. Dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Tanpa alat itu, dia tidak bisa mencintai dirinya sendiri. Bahkan untuk marah dan kesal pada keadaan ini dia tidak bisa karena hatinya tidak berfungsi. Semua manusia menjadi mati rasa. Binar di mata mereka ikut hilang. Bisa dilihat dari tatapan mereka yang kosong.
Sa mengunjungi rumah sahabatnya, Bi, dengan lemas. Setibanya di sana, Sa terkejut melihat rumah Bi yang berantakan. Dia bertanya-tanya, apakah rumah sahabatnya ini telah dimasuki pencuri. Kemudian, di ruang tengah dia mendengar suara seseorang mengaduh. Sa lekas menghampiri suara itu. Ternyata, Bi yang sedang mengelus kepalanya yang kesakitan.
“Kenapa rumahmu berantakan sekali, Bi?” tanya Sa.
“Aku sedang mencari sebuah buku, Sa. Ada cara untuk mengatasi fenomena ini. Aku yakin sekali pernah membacanya, tapi aku lupa letak buku itu di mana,” jawab Bi.
“Benarkah? Aku akan ikut mencari juga,” ujar Sa.
Mereka lalu bekerja sama mencari buku itu. Sa mencari di loteng dan Bi mencari di ruang perpustakaan. Kemudian, Sa berteriak memanggil Bi. Dia menemukan bukunya di loteng. Terselip di antara pakaian yang tidak dipakai lagi. Pasti Bi tidak sengaja meletakkannya. Mereka lalu mengeluarkan buku dengan sampul cokelat itu perlahan. Bentuknya sudah sedikit hancur karena dibiarkan di loteng yang lembap.
“Untung saja isinya masih bisa dibaca,” ujar Bi sambil membuka lembar demi lembar buku itu.
“Ini dia!” ujar Bi beberapa saat kemudian. “Ada manusia yang hidup di hutan terlarang. Beliau tidak bergantung pada alat untuk mengaktifkan hati. Mereka memanggilnya dengan sebutan Wa.”
“Hanya saja aku tidak tahu apakah beliau masih hidup. Maksudku, lihatlah betapa kunonya buku ini. Dan lagi itu hutan terlarang. Kau tidak berniat untuk ke sana, bukan?” ujar Bi.
“Aku harus pergi ke sana, Bi. Aku tidak bisa bertahan hidup jika alat ini tidak berfungsi,” ujar Sa sambil menunjukkan hati di dadanya yang berubah warna menjadi hitam.
Bi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu Sa sangat keras kepala kalau sudah yakin dengan keputusannya, maka Bi cuma bisa mendoakan keselamatan dan keberhasilan Sa.
***
“Sa, aku menemukan kertas ini di dalam buku. Sepertinya akan membantu perjalananmu,” ujar Bi sambil menyerahkan kertas itu pada Sa.
Sa sudah siap melakukan perjalanan. Dia sudah mengemas yang perlu dibawa dalam ransel yang cukup besar. Dia lalu melihat kertas pemberian Bi sekilas dan memasukkannya dalam saku kemeja.
Dan tibalah Sa di hutan terlarang. Di hadapannya terhampar pohon-pohon yang tinggi menjulang. Auranya suram sekali. Sa lalu mengeluarkan kertas pemberian Bi.
Petunjuk pertama. Aku ada ketika siang dan tidak ada ketika malam.
Dahi Sa berkerut membacanya. Dia tidak mengerti. Dia lalu memandang sekitarnya hingga dia melihat area yang terang di hutan terlarang. Mataharikah maksudnya? pikir Sa. Dia tidak yakin sebenarnya tapi dia sama sekali tidak punya petunjuk. Akhirnya, dia masuk ke area yang terang itu.
Ada jalan setapak di area itu. Sisi kiri dan kanannya tumbuh rumput yang menjulang tinggi. Sa pasti akan tersesat jika tidak ada kertas petunjuk pemberian Bi.
Sepanjang jalan, Sa sama sekali tidak menemukan air atau pohon yang berbuah. Tentu saja dia juga tidak berani memakan buah itu. Sa harus menghemat air dan makanannya. Dia tidak tahu apakah bisa keluar dari hutan ini. Rasanya dia sudah berjalan lama sekali tapi ujungnya tidak tampak. Hingga dia dihadapkan dua persimpangan jalan. Jalan pertama gelap dan ada semak berduri. Jalan kedua terang dan mulus. Sa lalu mengeluarkan kertas pemberian Bi.
Petunjuk kedua, ikuti kata hatimu.
Bagaimana aku bisa mengikuti kata hatiku? Aku, kan, ke sini karena ingin mengaktifkan hatiku, keluhnya. Sa harus berpikir. Jalan kedua terlihat mudah tapi bisa saja sebuah jebakan. Dia merasa curiga. Rasanya jalan kedua terlalu mudah. Jalan pertama terlalu sulit dan membuat menderita tapi bisa saja sebuah jebakan juga untuk membuatnya berpikir hidup itu tidak selalu berjalan mulus. Sa bingung harus memilih jalan yang mana. Di tengah kebingungan, dia akhirnya memutuskan untuk hitung kancing. Hasilnya adalah jalan kedua tapi dia ragu. Inilah kenapa dia tidak suka kalau alat hatinya tidak aktif. Seandainya alat itu aktif, dia tidak perlu bingung. Tapi jika alat itu aktif, dia tidak perlu melakukan perjalanan ini. Sa tertawa dan menangis bersamaan. Di tengah kebingungannya, akhirnya dia memilih jalan pertama. Untung dia membawa senter.
Ternyata, jalan pertama tidak seram dan sulit seperti yang dibayangkannya. Begitu masuk, dia langsung melihat jalan keluarnya. Ada cahaya di sana. Durinya juga tidak mengenainya. Sa merasa bangga dengan dirinya. Pilihannya tepat.
Setelah keluar dari jalan pertama, hamparan rumput dan bunga tulip memanjakan matanya. Dia hampir terbuai untuk berlama-lama di sana. Sungguh mengherankan. Di hutan terlarang, ada hamparan hijau yang indah seperti ini. Aku tidak sedang bermimpi, kan? Atau aku sudah pindah dimensi? Pikir Sa. Dasar Sa, dia terlalu banyak menonton film.
Dari kejauhan, dia melihat bangunan. Cerobongnya mengeluarkan asap. Sebelum ke sana, dia mengeluarkan kertas pemberian Bi. Dia harus berhati-hati. Inilah gunanya banyak menonton film, pikir Sa.
Petunjuk ketiga, yang indah belum tentu baik, yang buruk belum tentu tidak baik. Ketentuannya, kamu yang menentukan.
Sa hampir menangis membaca petunjuk ketiga. Apa gunanya petunjuk kalau semuanya berdasarkan aku? keluhnya. Dia lalu beranjak dan menuju bangunan itu. Di sana, dia melihat seorang perempuan sedang mengatur meja makan. Pandangannya lalu beralih pada Sa. Perempuan itu tersenyum ramah. Dia melambaikan tangan pada Sa yang kemudian segera berlari menghampiri perempuan itu.
“Silakan makan. Kau pasti lelah dan lapar setelah melewati hutan terlarang. Kau harus punya tenaga untuk bertemu Wa,” ujar perempuan itu.
Sa hampir saja memasukkan cupcake ke mulutnya ketika dia menyadari sesuatu. “Darimana kau tahu aku sedang mencari Wa?” ujar Sa.
“Wah, kau tetap pintar meski hatimu tidak berfungsi. Sayang sekali,” perempuan itu tertawa lalu hamparan hijau dan bunga tulip serta bangunan telah menghilang. Di hadapan Sa, ada sebuah gua. Dia teringat dengan petunjuk yang dibacanya. Jadi, dia memutuskan untuk masuk ke dalam gua.
“Siapa itu?” tanya seseorang.
“Aku Sa. Aku sedang mencari seseorang bernama Wa,” ujar Sa.
“Kenapa mencariku?” tanya suara itu.
“Tolong, kami lupa kata sandi untuk mengaktifkan hati kami. Kami tidak bisa bertahan hidup tanpa itu.”
“Tapi, aku lihat kau baik-baik saja. Dan lagi, kalau kau bisa sampai di sini, harusnya kau menyadari sesuatu setelah membaca petunjuk yang aku tinggalkan,” ujar Wa.
Kening Sa berkerut mendengar pernyataan Wa. Untuk apa aku ke sini kalau aku tahu? pikir Sa.
“Sudahlah. Kasihan melihatmu bingung seperti itu. Tadahkan tanganmu,” kata Wa.
Sa menadahkan tangannya. Sebuah kertas jatuh di tangannya. Sa tersenyum senang. Dia mengucapkan terima kasih pada Wa.
“Jalan lurus saja nanti kau akan keluar dari hutan terlarang,” ujar Wa.
Sa mengangguk dan sekali lagi berterima kasih pada Wa. Setelah menyusuri gua dengan meraba-raba, dia melihat sebuah cahaya. Dia lalu bergegas keluar. Benar saja kata Wa, dia sudah keluar dari hutan terlarang. Dia lalu buru-buru mengeluarkan kertas pemberian Wa.
“Teka-teki lagi?! Sepertinya Wa suka dengan teka-teki. Ah, aku lelah sekali,” ujar Sa setengah berteriak.
Aku adalah sebuah angka. Aku adalah bilangan yang mudah ditemukan. Setiap berhitung, kau selalu mengucapkanku terlebih dahulu.
Aku adalah sebuah angka. Aku adalah bilangan genap. Manusia menyebutku dengan julukan kursi terbalik.
Aku adalah sebuah angka. Aku adalah bilangan ganjil dan bilangan prima. Aku selalu disebut yang kedua setiap ada pertanyaan sebutkan bilangan prima.
Sa membawa kertas itu pulang. Bi akan membantunya memecahkannya.
***
Negeri manusia tidak kacau lagi berkat kertas pemberian Wa. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Seminggu kemudian, kata sandi itu tidak bekerja. Kekacauan terjadi lagi. Lebih besar dari sebelumnya. Begitu pula Sa. Andai Sa memahami maksud perkataan Wa saat itu. Harusnya dia menyadari kertas mana yang lebih berguna.









